oleh



Mahasiswa Unand Ciptakan Alat Pendeteksi Kematangan Buah

PADANG (Metrans)

Tiga mahasiswa Universitas Andalas (Unand) telah berhasil menciptakan alat yang dapat mengukur secara langsung tingkat kematangan pada buah, dengan menggunakan sensor suara KY-037 berbasis micro kontroler Atmega 328.

Alat pendeteksi kematangan buah ini diciptakan oleh tiga mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Unand, diantaranya Aliman, Yolta Alza Putra, dan dibantu Ardilah Anggraini Sirtin, di bawah bimbingan Khandra Fahmy, Ph.D., selaku dosen Fateta Unand.


Alat yang diprakarsai tiga mahasiswa Teknologi Pertanian ini telah diujicobakan pada buah melon dan semangka. Tiga mahasiswa ini menamakannya Rancang Bangun Alat Deteksi Kematangan Buah Melon dan Semangka (Rang Bagak). 

“Pembuatan alat ini ide awalnya dari dosen pembimbing, yang dilatarbelakangi kebiasaan masyarakat yang menentukan tingkat kematangan buah dilakukan secara konvensional, dengan mengetuk permukaan buah untuk menghasilkan bunyi," papar Aliman, mahasiswa Teknik Pertanian tahun masuk 2013, Sabtu (15/7) kepada Metrans.

Semangat Aliman dan rekannya menciptakan alat ini karena cara konvensional masyarakat sangat subjektif, sebab kemampuan pendengaran setiap orang berbeda, sehingga penentuan kematangan buah melon atau semangka tidak efektif atau sering meleset. Maka untuk mengatasinya, tiga mahasiswa Unand ini terdorong untuk berperan dengan memanfaatkan teknologi.

Aliman lulusan SMA Negeri 2 Payakumbuh, selaku ketua kelompok Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta ini, mengatakan tujuan menciptakan alat bernama Rang Bagak ini bukan hanya membantu petani, tetapi distributor buah dan juga konsumen yang masih sulit menentukan kematangan buah.

Menurut Aliman, proses kerja alat Rang Bagak ini, dengan cara meletakkan ujung sensor berjarak 1 cm pada buah, dan buah diketuk, frekuensi akan membaca suara. Kemudian komponen lain pada alat tersebut (arduino R3) mengubah besaran suara frekuensi ke besaran listrik, dan akan ditampilkan ke LCD dan speaker, maka LCD akan menampilkan kata “matang” atau ”tidak matang”.

 “Buah bisa diketuk dengan tangan, tentu hasilnya kurang memuaskan. Namun pada alat ini terdapat dua komponen. Pertama, box terdiri dari sensor, rangka box, LCD, tombol ON/OFF. Kedua, bandul pengetuk untuk menghasilkan bunyi. Makanya alat ini tidak bisa bekerja dengan baik ketika suara terlalu bising,” terang Aliman.

Kemudian Yolta Alza Putra, yang juga jurusan Teknik Pertanian Fateta Unand angkatan 2013, sekaligus juga alumni SMA Negeri 2 Payakumbuh ini ikut serta menjelaskan, latar belakang menciptakan alat ini atas ketidakpuasan konsumen buah melon dan semangka. Kadang ada konsumen mengeluh karena buahnya tidak matang, atau terlalu matang. 

Dengan adanya alat ini menurut Yolta, petani bisa menangani permasalahan ini pasca panen, sehingga konsumen merasa puas dengan buah yang dihasilkan, karena tingkat kesegaran buah terjaga. Selain itu, penciptaan alat ini juga sebagai Tugas Akhir, alat ini juga juga terpilih dalam program PKM Cipta Karsa.

“Saya khusus untuk buah semangka, dan Aliman untuk Melon. Penciptaan alat ini memakan waktu sebulan, dan melakukan penelitiannya kurang lebih selama 1,5 bulan. Dari 15 buah yang diujicobakan, hasilnya sangat memuaskan,” papar Yolta.

Menurut penuturan Yolta keakuratan alat ini mendeteksi kematangan buah sudah 85 persen. Hanya saja menurutnya alat ini baru diproduksi satu, dan masih dalam tahap untuk pendaftaran hak paten ke Menkumham. Ia berharap kedepannya alat ini terus diperbaharui, sekaligus akan diproduksi lebih banyak lagi.

Selain itu, ke depan ketiga mahasiswa Teknik Pertanian Unand ini juga akan melakukan pengembangan alat ini, agar bisa mendeteksi beberapa jenis buah, terutama Durian dan Nangka. Menurutnya kedua jenis buah ini sering diketuk untuk menentukan tingkat kematangannya.

“Saat ini kami sedang fokus untuk persiapan program PKM Tingkat Nasional, agar bisa lolos dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Makassar Agustus mendatang. Setelah itu kita kembali fokus melakukan pengembangan yang lebih canggih lagi,” kata Yolta ini semangat.

Sementara dosen pembimbing, Khandra Fahmy menyebutkan penciptaan alat ini sangat diapresiasi oleh pihak kampus, baik Dekan Fateta, maupun rektor Unand. Alat ini pun menurut dosen di Fateta Unand ini belum pernah diciptakan oleh siapapun sebelumnya.

Kemudian ia menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukan mahasiswanya ini didanai langsung oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI melalui Program Kreatifitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Dosen Fateta ini bertekad akan memproduksi alat ini lebih banyak lagi mahasiswanya.

“Alhamdulillah, tahun ini Unand mendapat bantuan dana untuk 109 proposal, dari Kemenristekdikti, maka dari ribuan proposal yang masuk, penelitian deteksi kematangan buah ini lolos di PKM-KC, dan akan bertarung di tingkat nasional nantinya dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Makassar,” jelas Khandra.

Lebih lanjut Khandra menjelaskan, kegiatan PKM-KC ini bertujuan menumbuh kembangkan kreativitas serta inovatif mahasiswa dalam ilmu dan teknologi. Adapun inovasi yang dilakukan, agar dapat diterapkan guna mempermudahkan masyarakat dalam dunia usaha, atau kehidupan sehari-hari.

“Program ini bersifat konstruktif dan harus menghasilkan suatu design, sistem yang inovatif. Mudah-mudahan alat ini memudahkan para petani, distributor, atau konsumen, baik di kebun, atau di pasar. Sekaligus diciptakan alat ini juga untuk mempelajari hubungan frekuensi suara yang dihasilkan dengan mutu buah, meliputi total padatan terlarut, kadar air dan kekerasan buah melon dan semangka,” jelas Khandra bangga. (why)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru