NAGARI ULAKAN

Makan Bantai Tradisi yang Masih Lestari

Persiapan sebelum pelaksanaan tradisi Makan Bantai di Ulakan

Ulakan (Metrans) Lain Padang lain belalang, lain lubuk lain ikan, lain nagari tentu lain pula adat, tradisi, dan kebiasaanya.

Perwujudan dari ungkapan pepatah ini akan sangat mudah kita temui di ranah minang atau Sumatera Barat.

Dengan prinsip dan penerapan adat salingka nagari pusako salingka kaum  selama ini, ungkapan ini terasa sangat cocok untuk masyarakat Minangkabau, karena  masing masing nagari mempunyai tradisi adat yang berbeda satu sama lainya.


Demikian pula dengan nagari Ulakan kabupaten Padang Pariaman, di nagari ini ada suatu tradisi yang sangat khas dan tidak banyak diketahui orang selain dari kabupaten tersebut.

Tradisi itu bernama Makan Bantai  yang dilaksanakan setiap Hari Raya Idul Fitri, tradisi ini bagi masyarakat Nagari Ulakan adalah tradisi yg sudah menjadi kegiatan tahunan yang diwarisi dari nenek moyang mereka sejak dahulu kala.

Menurut H.Sawir, mamak suku dari Kaum Panyalai, tradisi ini dilaksanakan pada hari ke dua Idul Fitri, Makan Bantai berarti makan dengan lauknya dari daging hewan yang dibantai yang diadakan ole nagari tersebut.

Dalam tradisi ini setiap keluarga membeli daging untuk dimasak dan dimakan bersama dengan anggota kaum atau suku.

Pada hari itu setiap warga saling berkunjung dari rumah ke rumah untuk bersilaturahmi.saling memaaf kan.

Acara ini dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  sebab sudah diberi kesempatan menjalani puasa Ramadan sebulan penuh serta menyambut datang nya hari raya Idul Fitri.

"Setiap suku yang ada di kenagarian Ulakan memperingati datangnya hari raya idul Fitri dengan acara makan bantai pada hari pertama lebaran dan di lanjutkan dengan tradisi wirid yang mana pelaksanaan nya di lakukan oleh masing_masing kaum atau suku,"ujar H. Sawir

yang di dampingi oleh kepala korong Banda Gadang Yulda dan Wali Korong Padang Pauh Kizalil Effendi.

Dalam acara wirid tersebut didatangkan urang Siak atau ustad untuk membaca salawat nabi dan ayat-ayat Alquran sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan setiap anggota kaum mengumpulkan sedekah untuk kelancaran acara wirid tersebut.

Sementara itu Wali Korong Padang Pauh Kizalil Effendi mengatakan kalau untuk acara tahun ini agak sedikit yang hadir, disebabkan para perantau tidak pulang kampung gara gara pandemi Covid-19.

"Tahun tahun sebelum nya biasa ramai.Akan tetapi untuk tahun ini sangat jauh berkurang.Di karena kan para perantau tidak di perboleh kan untuk mudik," lanjut Kizalil Effendi. (Marlim)


Jangan Lewatkan