oleh

‘GURU’ TAUHID DARI KOLOMBIA

Mari Belajar dari Seorang Aisyah Annisa

CATATAN: H. GAMAWAN FAUZI

 

Membaca Kolombia, serta merta kita teringat dengan Christopher Columbus pengelana Italia yang kemudian menemukan benua Amerika. Selain itu, Kolombia adalah republik di Amerika Selatan yang terkenal karena narkoba. Sejumlah raja narkoba seperti Escobar, Madelin, Blanco dan sejumlah nama tersohor lainnya membuat Kolombia sering diasosiasikan dengan narkotika.


Kecuali itu, Kolombia adalah penghasil kopi nomor dua terbesar di dunia setelah Brazil. Tapi tak hany keseraman kartel narkotika dan kopi yang enak erat terkait nama Kolombia, Zamrud atau batu permata mahal juga menjadikan Kolombia termasyhur. Negeri itu menjadi pemasok 95 persen kebutuhan zamrud dunia.

Dalam dunia perfilman diperlihatkan bahwa perempuan artis Kolombia cantik-cantik. Karena itu juga seorang pria dari tanah Pasundan kecantol perempuan Kolombia bernama Martha Eugenia.

Dari sebuah kapal pesiar yang ditumpangi Martha Eugenia dua puluh tahun silam kisah kehidupan Eugenia ini ingin saya nukilkan. Kisah keteguhan perempuan Kolombia memegang syahadat yang sudah dilafadzkannya, sekali bersyahadat, teguh selamanya sekalipun duka lara bertubi datang.

Ia sudah menjadi muslimah sejak 20 tahun lalu ketika menikah dengan suaminya yang orang Indonesia itu. “Tak usahlah diketahui namanya, biar saya saja yang tahu,” katanya ketika saya dan istri saya Vita menyambanginya di rumahnya yang tak bisa pula dibilang jelek di kawasan Kampung Curug Mekar, RT 02/04 Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Selasa lalu.

Saya dikirimi kabar oleh teman-teman di grup SMA tentang Eugenia ini. Diceritakan dalam grup WA kepada saya bahwa Eugenia adalah seorang mualaf yang kini ditinggal suaminya orang Indonesia, anak gadisnya sedang menderita kanker darah (leukemia) dan perempuan dari Kolombia itu kini menjadi pemulung untuk menyambung hidupnya.

Tapi sungguh, bukan itu yang membuat saya dan istri memutuskan harus bertemu dia. Salah satu fragmen dalam kehidupan Eugenia yang menurut saya penting jadi tauladan adalah kekukuhan hatinya untuk tetap dalam lindungan Islam. Ia sudah diminta kembali mudik oleh keluarganya yang kaya di Kolombia asal dia mau kembali ke keyakinan agamanya sebelum jadi mualaf.

“Tidak, saya lebih baik begini asal tetap bersama Islam. Allah pasti bersama saya,” katanya ketika siang itu saya dan istri saya diterima di ruang tengah rumahnya. Tak jauh dari kami duduk, anaknya Raisa yang cantik terbaring tak berdaya. Oh ya, sejak jadi Muslimah, Eugenia berganti nama menjadi Aisyah Annisa.

Begitulah, beberapa saat setelah menerima kisah Aisyah ini saya mencoba mencari tahu alamat dan nomor kontak sebagaimana yang sudah ada dalam grup WA SMA saya itu. Begitu dapat, saya mencoba menghubungi nomor WA Aisyah. Saya utarakan maksud saya ingin datang berkunjung, seraya menyebutkan nama saya pula. Syukurlah dia tak kenal dengan saya, tapi ia menyatakan bersedia menerima kami.

Selasa pagi 21 Januari saya dan isteri bersama seorang sahabat mencari kediamannya itu. Setelah beberapa kali berhenti dan bertanya, akhirnya kami diantar seorang tukang ojek, Hendri namanya. Kami berhenti di pinggir jalan dan memarkir mobil di sana, lalu melanjutkan berjalan kaki menelusuri gang kecil.

Tak lama berjalan kami sampai di sebuah "rumah petak" sewaan ber cat hijau tua. Lalu pintu terbuka. Saya dan isteri mengucapkan salam, setelah salam kami di balas penghuni rumah, kami pun masuk dan duduk di lantai. Di depan kami terbaring anak  Aisyah Annisa yang dikenelkan kepada kami namanya Raisa. Wajahnya cantik, kulitnya putih, matanya bulat, alis tebal. Tapi dia sudah bertahun tahun tak bisa berdiri, usianya 20 tahun.

Maka Aisyah pun mulai bertutur pelan tentang anak gadisnya itu. Diceritakan oleh Aisyah, bahwa sejak dua tahun Aisyah bersama ayahnya. Sang ayah rupanya kecantol pembantu. Lalu mengawininya dan meninggal Aisyah begitu saja. Maka Aisyah memilih keluar dari rumah mereka di Bandung, Sejak itu Aisyah terlunta-lunta. Tapi ia tidak mau berputus asa. Dia kerja serabutan. “Saya pantang meminta-minta,” katanya. Maka dia kerjakan apa saja asal halal. Mulai dari jadi tukang binatu sampai jadi pembantu.

Sepanjang hidupnya ia menyesali kenapa ia melepas anak semata wayangnya dengan bekas suaminya itu. Maka beberapa tahun lalu ia berusaha mencari jejak bekas suaminya. Akhirnya ketemu dan meminta kembali anaknya. “Tapi kondisi anak saya sudah sangat hancur, ia disiksa oleh ibu tirinya. Dan hari ini saya dapati dia divonis dokter kena kanker darah, Allah sungguh menguji saya,” kata dia tanpa terlihat terluka. Padahal saya tahu ia amat terluka.

Mendengar Aisyah banyak bercerita tetang Raisa, gadis itu rupanya terganggu. Dan lagi-lagi Aisyah mengatakan bahwa Raisa sangat terganggu kalau ada yang bertanya-tanya soal masa lalunya. Maka saya dan istri tidak mau bertanya lagi.

Raisa kemudian bergolek lagi sambil sesekali mengusap tiga kucing yang menurut Aisyah selalu menjadi teman Raisa ketika dia harus ditinggal ibunya yang bekerja sebagai pemulung.

Kami kemudian menanyakan tentang bagaimana usahanya menghidupi keluarga, bukankah dia masih WNA? Sedang untuk mendapat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) ia selalu gagal karena orang asing.

“Sekarang saya menjadi pemulung plastik dan kardus. Saya ingin bila ada uang maka saya menjadi pengepul, naik setingkat dari sekarang. Dulu sempat membantu di rumah orang,  mencuci baju orang. Sejak beberapa tahun ini saya sudah mantap dengan menjadi pemulung. Beberapa hari terakhir, sejak masuk facebook dan tv, rumah ini jadi ramai. Sebanrnya saya tak suka, saya tak mau meminta-minta. Nanti tetangga juga terganggu karena saya. Kalau saya mau hidup senang, saya bisa pulang ke negara saya, saya anak tunggal, saya akan dapat waris banyak, tapi saya harus pindah ke agama orang tua saya kembali. Itu yang saya tak mau. Biarlah saya hidup seperti ini, saya tak khawatir, karena saya punya Allah. Saya yakin pertolongan Allah,”katanya. Sekali ini ketegaran yang dicoba dia pertahankan ambruk, ketika  memperbaiki jilbabnya saya lihat airmata menggenang di telaga itu. Selintas saya memperhatikan wajahnya. Bekas  raut cantik masih tersisa di sana menjelang  usianya memasuki 50 tahun. Wajah itu menyinarkan sapuan bekas wudhu', meskipun tengah terluka. Tapi tegar dengan imannya.

Seorang remaja putri yang datang sendirian duduk di samping saya, katanya dia dari Jakarta. Datang dengan kereta api pagi sendiri, khusus datang kesini. Dia tak banyak bicara, dia lebih banyak tersenyum. Mungkin sedang merenungi makna hidup sesungguhnya, mungkin juga dia sedang belajar tentang dunia dengan segala khazanah Allah yang Maha Kaya.

Tiba tiba Aisyah bertanya kepada saya, “Bapak dari Jakarta juga?”

“Iya bu...” jawab saya.

“Kalau begitu apa bisa bapak nanti sambil pulang bawa dia?” ujarnya seraya menunjuk remaja tadi. Masya Allah, dalam susah, Aisyah masih bisa memikirkan orang lain, pikir saya sambil diam.

“Tentu saja bisa,” jawab saya. Tapi remaja ini menolak tawaran saya, dia ingin kembali naik kereta ke Jakarta.

Dialog kembali kami lanjutkan, saya dan istri mencoba pelan mendalami hasratnya ke depan, apa yang menjadi keinginan untuk nafkah mereka berdua masa datang. Rasa akrab dan percaya mulai tumbuh di hati Aisyah. Dia mulai cerita tentang usahanya sekarang dan keinginannya masa datang, jalan usaha yang akan dilakukan dan apa yang sudah dirintisnya, tentu juga beratnya masalah permodalan, maklum dia bukan WNI.

Spontan saya dan isteri bereaksi, kami sanggupi apa yang diperlukan itu, karena saya yakin bahwa saya punya banyak teman yang shaleh, dermawan dan suka berinfak.

Aisyah lama terpana, menatap isteri saya, akhirnya tangis itu pecah juga, mereka berpelukan cukup lama, telaga bening di matanya mengalir membasahi pundak isteri saya. Saya tak tahan dengan adegan seperti itu. Pelan-pelan saya beranjak ke luar pintu. Di halaman rumah saya telefon beberapa sahabat. Semua ingin membantu melalui saya. Nah.. keyakinan saya terjawab sudah. Harta sedikit yang ada pada kita bukan hanya milik kita, ada titipan Allah di sana, kita disuruh menyampaikan kepada Aisyah dan Asiyah Aisyah lainnya ada di mana mana. Karena kita lahir tak membawa apa apa.

Tapi hari ini saya dapat pembelajaran berharga. Saya berguru tentang Tauhid kepada Aisyah, bukan teorinya, tapi sikapnya, praktiknya saat sedang menghadapi ujian berat. Bukan saat angin  dan lautan tenang tak berombak, justeru saat badai yang panjang. Hidup berat yang bertahun-tahun di jalaninya.

Seorang teman membaca postingan pendek saya memprotes. Kenapa tuhan begitu ? dia kan mualaf, mestinya dia disayangi, bukan dibuat susah seperti itu. Saya juga tak tahu jawabanya yang benar, karena itu rahasia Allah. Tapi saya katakan, mungkin Allah sedang menguji imannya, dia akan dapat hadiah sorga yang nikmatnya tiada tara. Karena itu ujiannya juga berat, kecuali kalau hadiahnya hanya sebuah kipas angin kecil  atau 10 bungkus mie instan seperti main KIM.

Kita semua yang mengaku beriman pasti juga akan dapat ujian, bentuknya beda-beda. Itu pertanda Allah menyayangi kita. Yang kita sangat khawatirkan kalau ujian Allah tak pernah datang, karena Allah tak mau tahu dengan kita/istidraj.

Saya hari ini dapat seorang guru dari jauh. Bukan dari Mekah, tapi dari Columbia. Ternyata bumi ini banyak menebar guru, kadang kita saja tak mau berguru. Orang Minang sudah sejak lama paham akan hal itu, Alam Takambang Jadi Guru. Salam dari saya: Gamawan Fauzi


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru