oleh



Mengaku Dirampok dan Buat Laporan Polisi Palsu, Tukang Sate ini Jadi Tersangka

LIMAPULUH KOTA (Metrans)

Mencari alasan dengan 'akal bulus' akhirnya mengantar tukang sate ini berurusan dengan pihak kepolisian. Betapa tidak, dengan niat jahat untuk mengelabui anggota kelompok julo-julo daging kerbau, pria berinisial DK (36) ini nekad membuat laporan polisi palsu bahwa dirinya telah menjadi korban perampokan.

Menurut pengakuan DK, seperti dalam laporan polisi yang diregister pada No: LP/K/42/V/2019/Sektor Guguak tanggal 21 Mei 2019, bahwa pada Selasa (21/5) sekira pukul 12.00 WIB, bertempat di Jorong Guguak, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota, telah terjadi tindak pidana pencurian dengan kekerasan alias perampokan terhadap dirinya.


Dalam laporan palsunya, dia mengaku bahwa kronologis perampokan itu berawal saat dia pergi ke rumah saksi (Rita dan Rini) untuk mengambil uang kelompok julo-julo yang nantinya akan digunakan untuk membeli kerbau yang akan disemblih jelang Idul Fitri mendatang. Dia menyebut, uang kelompok atau julo-julo daging kerbau itu diletakannya di dalam bagasi sepeda motornya.

Kemudian, dalam perjalanan pulang, tepatnya di Jorong Guguak, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, dia mengaku tiba-tiba dicegat tiga orang pria yang tidak dia kenal dengan mengendari dua unit sepeda motor dan berusaha menyahat tubuhnya menggunakan pisau cutter. Setelah dipepet, dia terpaksa berhenti. Pada saat itu dua orang pria berusaha menahan dia, sedangkan seorang pria lagi berusaha mengambil uang yang ada di dalam jok bagasi sepeda motornya.

Setelah berhasil menguasai uang terlapor DK, kemudian tiga pria yang tidak dikenalnya itu pergi meninggalkannya dengan kondisi paha terluka sayatan senjata tajam pisau cutter. Atas kejadian pencurian dengan kekerasan alias aksi rampok tersebut, dia mengaku kehilangan uang sebanyak Rp4 juta dan meminta Polsek Guguak untuk mengungkap serta memproses kasus pencurian dengan kekerasan yang dialaminya itu.

Ternyata Rekayasa

Untuk menyikapi laporan DK, Kapolsek Guguk Iptu M.Arvi memerintahkan anggota Satreskrim Polsek Guguak dibantu anggota Opsnal Polres Limapuluh Kota untuk mendatangi dan melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) atas kasus curas yang menimpa DK.

Namun, dari hasil olah TKP, polisi menemukan beberapa kejanggalan di antaranya, luka bekas gores di paha kaki kanan DK adalah bekas luka lama dan bukan luka baru. Begitu juga dengan bekas baju dan celana, bukan robek atau bekas sayatan baru. Di samping itu, TKP juga bukan tempat sunyi yang patut dicurigai, bahkan tidak mungkin terjadi kasus kejahatan seperti perampokan yang dialami DK.

Setelah menemukan beberapa kejanggalan atas laporan dan keterangan DK, penyidik 'mencium' ada yang ganjil atas laporan polisi terhadap kasus perampokan seperti yang dilaporkan DK. Untuk mengungkap kecurigaan itu, penyidik melakukan interogasi terhadap DK dan mendalami kasus tersebut. Setelah dilakukan pendalaman dan interogasi terhadap DK, polisi berhasil mengungkap bahwa laporan polisi yang dibuat DK adalah laporan polisi palsu.

"Setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya terbukti bahwa laporan polisi yang dibuat DK atas kasus pencurian dengan kekerasan alias aksi perampokan yang dialaminya itu, ternyata rekayasa. Karena uang kelompok yang selama ini satu tahun dikutip DK, telah habis terpakai sebanyak Rp4 juta. Sementara saat laporan polisi ia buat, DK harus menyetorkan uang julo-julo untuk membeli ternak kerbau sebanyak Rp7 juta, dari jumlah uang yang berhasil dia pungut untuk diserahkan kepada ketua kelompok untuk dibelikan ternak kerbau yang akan disemblih jelang Idul Fitri nanti. Sedangkan uang yang tersisa ditangannya hanya tinggal Rp3 juta. Untuk menutupi kekerangan yang Rp4 juta itu, akhirnya DK membuat rekayasa seakan-akan dia dirampok," kata Kapolres Limapuluh Kota AKBP Haris Hadis melalui Kapolsek Guguk, Iptu M. Arvi, Jum'at (24/5).

Diakui Iptu M.Arvi, karena mengakui telah merekayasa laporan polisi tersebut, akhirnya DK ditetapkan sebagai tersangka. Dari tangan tersangka, sudah diamankan beberapa barang bukti di antaranya, uang tunai senilai Rp195 ribu, baju dan celana bekas sayatan senjata tajam, serta sepeda motor merek honda dengan nomor polisi BA 5480 MF. Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 220 KUHP karena dengan senagaja membuat pengaduan palsu tentang peristiwa pidana dengan hukuman 1 tahun 8 bulan kurungan penjara. (li2) 


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru