KAMPUNGNYA BELUM JUGA DIALIRI LISTRIK

Muncak Adirman Seorang Diri Bangun Jembatan dan Jalan

Muncak Edirman dengan latar belakang jembatan kayu yang dibuatnya

SIKUCUR TIMUR (Metrans))
Benar-benar warga yang peduli dengan lingkungan dan pantas diusulkan untuk mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Republik Indonesia. Bagaimana tidak! Meskipun  sudah tua, laki-laki ini sendirian membuat jalan dan jembatan untuk kepentingan rakyat banyak.

Adalah Muncak Adirman, laki-laki berusia 65 tahun warga Korong Koto Hilalang Nagari Sikucur Timur, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mengaku melakukan pekerjaan sosial ini karena ketika mengajak warga bergoro membangun jalan dan jembatan di kampungnya banyak yang enggan.

“Padahal mereka itu punya lahan sawah ladang ditempat itu, dan saya pernah pula minta bantuan pada pemimpin di kampung ini,tapi sampai sekarang tak pernah ditanggapi,” ujarnya ketika ditemui Metrans, Jumat (10/2).


Karena ia melihat tak ada jalan lain menuju Lubuk Langih dari kampungnya, ia terpaksa mengikis tepi jurang yang terjal secara berangsur-angsur sendirian, agar bisa dilalui kendaraan roda dua.

“Namun pekerjaan saya terhalang karena harus membuat jembatan sebagai penghubung menuju lahan perkebunan dan pertanian serta pemukiman warga, yang panjangnya lebih kurang 10 meter.” paparnya.

Dia sangat berharap kepada pemerintah dan juga instansi terkait, agar Korong Koto Hilalang Utara sangat minta diperhatikan dan bantuan yang serius selain infrastruktur, misalnya memberi penerangan listrik.

Sebelumnya, Ketua Pemuda Korong Koto Hilalang Utara, Akhirman 38 tahun yang mengetahui apa yang telah diperbuat laki-laki itu. sangat memuji kegiatan sukarela yang dilakukan oleh Muncak Adirman.

Menurutnya, jalan sepanjang lebih kurang 4 kilometer dengan lebar 50 centi meter, yang berada di sisi tebing yang curam, berketinggian lebih kurang 100 meter yang menuju pemukiman yang dihuni lebih kurang 40 kepala keluarga, dan lahan pertanian serta perkebunan, sampai saat sekarang belum di sentuh aliran listrik sebagai penerang, padahal jarak dari jalan raya hanya lebih kurang empat kilo meter.

Bahkan dengan keadaan yang sangat miris ini, ada warga yang meninggalkan sawah, ladang dan rumahnya untuk mencari kehidupan yang lebih layak, Padahal lahan di Lubuk Langih itu sangat menjanjikan penghasilannya bagi petani, seperti lahan pertanian lebih kurang 20 hektar, kebun kopi, kebun kayu manis, kebun buah pala, durian dan lainnya.

“Dalam kenyataan ini, walaupun hasil panen warga melimpah ruah, tanpa ada jalan yang layak sebagai sarana penghubung, semua panen itu akan terbuang sia sia,” kata Muncak Adirman mengakhiri. (ajo)


Jangan Lewatkan