oleh

OLEH: H. GAMAWAN FAUZI

Musibah dan Perenungan Kita

Oleh: H. Gamawan Fauzi

 

Negeri kita tengah berduka. Tak lama setelah lombok di guncang gempa besar, tiba tiba bumi kembali berayun di sulawesi tengah, bahkan disusul tsunami yang dahsyat.


Tak sedikit sanak saudara kita wafat dan hilang. Tak terbilang pula kerugian materi dan trouma.

Belum kering airmata kita, senin lalu terjadi lagi kecelakaan pesawat Lion yang menghunjam ke dasar laut di Tanjung Paku Kerawang.

Saya kira tak seorang pun yang mengerti apa sesungguhnya rencana Allah di balik peritiwa ini.

Sebagai seorang muslim, mungkin beragam dugaan muncul. Ini teguran kata sebagian orang, ini ujian kata yang lain. Tapi apapunlah, tak elok berprasangka buruk, karena bisa saja bagi yang diwafatkan mendahului kita, Allah telah menyediakan sorga baginya. Allah ingin menjemputnya dalam kesucian/qalbun salim. Atau bisa jadi Allah menyuruh kita yang hidup untuk mengambil i'tibar dari semua peristiwa itu.

Rasulullah bersabda:  kafa bil mauti waiza, cukuplah kematian jadi pelajaran buat kita.

Tentu saja kita bersedih dengan bencana itu, dan kita merasa sangat kehilangan. Tapi.... bukankah Allah sudah mengingatkan dalam risalahNya yang mulia, seperti ternukil dalam surat Albaqarah (2) 155. Wala nabluwannakum bisyaiin minalkhaufi walju'i wannaqsim minal amwali wal anfushi washamarat, Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan.

Apakah yang kini tengah kita alami adalah bagian dari ujian yang disebutkan Allah itu? Wallahualam bissawab. Hanya Allah yang tahu.

Tapi bila hal itu benar, maka Allah telah memberikan obat buat kita yang masih hidup, utamanya sanak keluarga dan sahabat karib korban. Petunjuk itu justeru diberikan sebelum musibah datang, seperti disebutkan dalam surat Albaqarah (2) 153, Ya Ayuhalazinaamanustainu bishabri washalah, innallaha maashabiriiin. Wahai orang orang beriman ! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan shalat dan sabar.

Dan pada ujung ayat 155 tadi, Allah menghibur kita. Wabasyiri shabiriiiin. Beri kabar gembira kepada orang orang yang sabar, Innallaha masyabiriiiin, Allah beserta orang orang yang sabar.

Ini sungguh membuat dahaga. Bayangkan! kita bisa bersama Allah.

Bersama pejabat tinggi atau orang kaya saja kita kadang merasa bangga, apalagi bersama pemilik jiwa, pemilik jagad raya, pemilik langit dan bumi beserta semua isinya.

Kadang ada hal hal yang tak tercerna akal, semakin dipikir, makin membuat kita tak paham. Persoalannya terletak pada keangkuhan manusia, yang mengira semuanya dapat diselesaikan dengan akal, padahal akal itu sendiri ada batasnya. Atau karena kita merasa mempunyai hak kepememilikan yang berlebihan. Padahal semuanya adalah pinjaman, atau karena kecintaan kepada dunia yg berlebihan. Padahal dunia ini hanyalah persinggahan, seperti diingatkan Allah, kalian tidaklah tinggal di (bumi) melainkan sebentar saja (al mukmu'minun 114)

Pada bagian lain di katakan, wamalhayatuddun ya la ibhu walahwu, bahwa dunia ini hanya main main dan senda gurau (al hadid 20). Juga disebutkan, Wamalhayatud dun ya illa mata'ul ghurur, tidaklah dunia melainkan kesenangan yang memperdaya.

Dalam saat saat seperti ini, rasanya tak cukup bila kita hanya melihat sesuatu dalam perspektif keduniaan yang mengandalkan akal pikiran.

Yang melihat soal gempa dari pandangan ilmu pengetahuan, atau teknologi yang semakin canggih. Padahal ilmu pengetahuan belum mampu menjawab semua permasalahan dan ilmu pengetahuan akan berhenti bila Allah berkehendak. Kun fayakun.

Mungkin saatnya kita melihat dari perspektif ketuhanan, pandangan ukhrawi, yang menyadarkan kita bahwa La haula wala quata ila billahil aliyulaziiiim.

Mungkin telah tiba saatnya bagi kita penghuni negeri ini untuk berserah diri sepenuhnya kepada kepada Allah (al 'anbiya’ 114), dan sekaligus bermuhasabah, sembari menghitung hitung salah dan dosa kita untuk memperbaiki segala kekeliruan yang diperbuat.

Semoga tulisan ini dapat menggugah kesadaran kita di negeri ini, betapa tidak berdayanya kita di hadapan Allah pemilik alam semesta ini (Jakarta 2-11-18)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru