oleh

DIALOG FKPT SUMBAR-MAHASISWA

Nasir Abas: Rekrutment Calon Teroris itu Mudah

Hati-hati, jangan mudah dirayu untuk terseret ikut menjadi calon teroris karena pola rekrutmennya biasanya sangat mudah dan menyentuh, kata mantan instruktur teroris Nasir Abas.

 

PADANG (Metrans)


Agar tidak gampang dirayu untuk direkrut jadi teroris maka anak muda mesti teruslah membaca dan banyak menimba ilmu dan menjalankan logika. Para perekrut sebenarnya tidak sulit-sulit untuk merekrut calon-calon teroris, cukup memberi perbandingan-perbandingan saja.

“Misalnya kita disuruh memilih negara Islam atau negara Pancasila? Pilih pemimpin kafir atau Nabi Muhammad? Itu pertanyaan yang biasa diberikan pada awalnya oleh para perekrut kepada calon teroris,” kata mantan instruktur teroris ASEAN, Nasir Abas.

Mantan instruktur di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu kemarin buka-bukaan dengan para mahasiswa peserta Dialog Pencegahan Terorisme bersama masyarakat kampus di aula Pascasarjana UIN Imam Banojol, Padang.

“Untuk merekrut calon-calon teroris, pertanyaan dengan jebakan seperti itu lazim dilakukan,” kata dia. Tapi kembali ia mengingatkan bahwa agar tak terjebak pada jawaban yang menjerat, maka seorang mahasiswa mesti memiliki ilmu dan pengetahuan agama yang mendalam. Sehingga bisa tidak gampang terseret pada ajakan untuk memilih jalan atau paham yang keliru.

Dengan panjang lebar Nasir yang kini menjadi juru kampanye antiradikalisme dan antiterorisme itu menceritakan masa lalunya yang lebih dari seperempat abad berada di lingkungan para teroris internasional. Ia lama bermukin dan ikut berperang di Afghanistan, di Moro Filipina Selatan, di Malaysia, di Ambo, di Poso dan berbagai medan konflik.

Menurut dia, sekali tergelincir ke paham yang dicekoki oleh para perekrut itu, maka akan sulit untuk kembali ke jalan yang benar. “Bahkan mereka –para teroris itu—malah ada yang bangga menyebut dirinya teroris. Mereka kemudian memberi pembenaran bahwa membunuh orang tak berdosa, membunuh masyarakat sipil, merusak infrastruktur adalah halal dan itu adalah jalan jihad. Padahal itu tidak benar sama sekali. Islam hanya membolehkan bunuh membunuh itu pada saat terjadi perang. Ketika saya menjadi intruktur, saya tidak pernah mengajarkan mereka membunuh masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam perang,” kata pria yang merupakan guru Imam Samudra dan Muchlas itu.

Ia mengingatkan bahwa radikalisme yang menjadi picu terorisme itu tidak hanya ada sekarang atau di era modern saja di Indonesia. Sejak 1949, sejak NII diproklamirkan oleh Karto Soewirjo di Garut Jawa Barat paham itu sudah ada. Dan perjuangan seperti itu –membuat negara dalam negara— menurut Nasir sangatlah tidak masuk akal.

Menurut Nasir, dia tidak pernah membunuh warga sipil. Ia hanya membunuh saat berpeperang melawan kaum komunis di Afghanistan yang hendak menghabisi Islam di sana. Para eks mujahidin Afghanistan di Indonesia, kata dia, banyak dipengaruhi dan disesatkan pikirannya oleh Osama Bin Laden. Pria keluarga kerajaan Saudi itu, menurut Nasir berpaham bahwa ‘sudah tiba saatnya Islam memberi balasan yang setimpal kepada musuh-musuhnya’.

Maka, dua pendekatan mengerem semangat radikalisme ini yakni pendekatan keras (hard approaching) dan pendekatan lunak (soft approaching) yang digunakan di Indonesia sudah pas. Bahkan cara soft approaching ala Indonesia dengan penerapan deradikalisasi kini banyak diadopsi negara-negara barat.

Penyebaran paham radikal itu banyak dilakukan melalui internet. Karena itu, kata Nasir, Indonesia juga harus membuat sebanyak mungkin kontra-narasi untuk melawan narasi radikal yang tersebar liar itu.(han)

Lihat juga: 39 persen Mahasiswa di 15 Provinsi Cenderung Mendirikan Negara Khusus

 


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru