oleh



Over Kapasitas, Napi Narkoba 'Kuasai' Rutan Kelas IIB Painan

PAINAN (Metrans)

Dari seluruh narapidana yang ada di Rutan Kelas II B Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, yang paling menonjol dilakoni oleh narapidana kasus narkoba.

"Sekarang ini warga binaan di Rutan sebanyak 93 orang. Dari jumlah itu yang paling menonjol dalam kasus narkoba sebanyak 34 orang," kata Kepala Rutan Kelas II B Painan, Sahduriman pada Metrans, Rabu (13/3) di ruangannya.


Kemudian kata dia, disusul dalam 16 narapidana kasus pencurian, 15 kasus perlindungan anak, 5 kasus perjudian dan 2 kasus korupsi. Sementara, sisanya terlibat dalam kasus laka lantas dan illegal logging.

Sahduriman menyampaikan, dari jumlah tahanan yang dinominasi oleh narapidana narkoba itu, mengakibatkan keterbatasan kapasitas muatan (over capacity) di Lapas tersebut. Dalam keterbatasan kapasitas itu, sebagian telah dipindahkannya ke beberapa Lapas di Sumbar, salah satunya ke Rutan Padang.

"Memang untuk kasus narkotika menjadi kondisi yang telah memprihatinkan khususnya di Kabupaten Pessel. Sebab setiap bulannya terus meningkat sehingga terpaksa harus dipindahkan ke daerah lain," terangnya.

Dia menyampaikan, guna menghindari peredaran narkoba di dalam Rutan tersebut, pihaknya memberlakukan daerah bebas HP dan menyediakan sarana wartel (warung telepon) bagi warga binaan untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Namun itu juga dengan pengawasan dari petugas. 

"Wartel ini telah kita berlakukan semenjak November 2018 lalu bagi warga binaan yang ingin berkomunikasi dengan keluarganya dan biaya menelpon disesuaikan dengan biaya yang lamanya pembicaraan warga binaan itu," kata dia.

Lebih lanjut kata dia, dalam pemakaian wartel itu, selalu dimonitor oleh petugas dengan tujuan agar warga binaan tidak melakukan percakapan yang melanggar hukum, seperti pemesanan narkotika atau tindakan melanggar hukum lainnya. Hal itu untuk mengantisipasi kejadian terkait banyaknya beredar pemberitaan bahwa adanya peredaran narkotika yang dikendalikan dari dalam Rutan .

"Maka dari itu, kami selalu memantau kondisi tahanan setiap saat, karena itulah kita berbuat wartel dan membebaskan HP dari semua penghuni," ujarnya.

Dalam memonitor warga binaan, kata dia, pihaknya juga mengalami kesulitan karena keterbatasan sarana dan prasana. Karena pihaknya sangat membutuhkan CCTV (kamera pengintai) di 9 titik dan ruang pendaftaran kunjungan. 

"Sebelumnya Bupati berjanji akan memberikan bantuan CCTV kepada kita, namun setelah kita cek hingga kini belum ada. Kami berharap sangat karena dengan adanya CCTV itu bisa memudahkan pengawasan," harapnya.

Ia menambahkan, soal perlakuan terhadap warga binaan, pihaknya tidak memberikan perlakuan khusus kepada warga binaan. Bahkan aturan yang dibuat harus diikuti dan dipatuhi semua warga binaan, bahkan kepada semua petugas yang ada, termasuk membebaskan Rutan dari pungutan liar. (mil)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru