oleh

DARI BUKU CREATOURISM:

Penta Helix itu, Basamo Mako Manjadi

PADANG (Metrans)

Permintaan Wagub Sumbar Nasrul Abit agar semua pihak lebih serius mengurus kepariwisataan daerah dijawab oleh para praktisi industri wisata Sumbar dengan cara bali bertanya: seriuskah permerintah di daerah?

“Desain, ide, gagasan kreasi sudah banyak. Tapi seberapa jauh daerah terutama Kabupaten/Kota telah merespon dengan baik semangat penta helix yang didengungkan Menpar Arief Yahya itu,” kata praktisi wisata Sumbar Ridwan Tulus  dalam kesempatan bedah buku CreatTourism malam kemarin di Hotel Pangerans Beach.


Menurut Ridwan, dalam buku yang ditulis delapan doktor dan kandidat doktor Unand serta dieditori oleh pakar pariwisata Dr. Sari Lenggogeni dan pakar ekonomi SDM, Prof. Elfindri itu, sudah cukup banyak dan jelas apa dan bagaimana mestinya mengurus pariwisata di daerah.

“Tinggal menunggu political will dari pemerintah saja,” kata Ridwan.

Bedah buku yang dimoderatori Wakil Ketua PWI Sumbar Eko Yanche Edrie, juga menampilkan praktisi lain seperti Ian Hanafiah dan Zukhrizul.

Ketua ASITA Suymbar Ian Hanafiah melihat persoalan destinasi tinggal mengemas sedikit saja, yang jadi soal adalah bagaimana destinasi itu memiliki buku panduan yang jelas. “Wisatawan ingin dapat penjelasan tentang adat, tentang budaya, tentang tradisi misalnya. Tapi sejauh ini tidak ada buku panduan yang baku yang dapat jadi pegangan para tour guide. Akibatnya penjelasan kita kepada tuyris tidak memuaskan,” kata Ian.

Akan halnya wisata halal (Ian termasuk salah seorang penerima anugerah internasional wisata halal-red) menyebutkan bahwa Sumbar sebagai destinasi wisata halal perlu lebih dipertegas lagi dengan menjaga terus menerus nilai-nilai yang melekat pada wisata halal.

Sementara menurut kreator LawangPark, Zukhrizul pada hakekatnya ia setuju dengan banyak pesan dalam buku Creatourism ini terutama pada bab yang menjelaskan aspek sosial budaya dalam kepariwisataan. “Pariwisata itu sebenarnya tidak ‘membangun’ tetapi sesungguhnya menjaga kelestarian, sustainable. Artinya lingkungan yang tadinya banyak pohon, tidak harus dihabisi demi pariwisata, melainkan bagaimana kawasan yang banyak pohon tetap dipertahankan tapi dibuat sedimikian rupa hingga ia bernilai tambah dan tidak dirusak ujudnya,” kata dia.

Ketiga pembahas buku sama-sama sepakat dengan pesan yang ada dalam buku itu bahwa perlu mengukuhkan istilah yang diluncurkan Menpar Arief Yahya yakni penta helix. Oleh moderator Eko Yanche Edrie, tawarkan terjemahan lokalnya sebagai basamo mako manjadi. Istilah penta helix  dilontarkan Menpar setahun lalu yang berarti sinergi antara lima komponen penting dalam kepariwisataan: media, pemerintah, akademisi, industri dan komunitas.

Sebelumnya dalam sambutan peluncuran buku, Wakil Gubernur Nasrul Abit mengatakan bahwa Pemoprov sedang mendorong daerah ini memiliki ikon wisata yang siap secara konsep dan infrastruktur hingga benar-benar mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan datang.

Wagub memberi contoh Padang dan Bukittinggi kini mulai mendekati harapan itu. Sedangkan di belakang itu menyusul Pesisir Selatan, Tanah Datar, Kabupaten Solok, Padang Pariaman, Sawahlunto dan Limapuluh Kota.

“Saya tidak menuntut banyak destinasi di tiap Kabupaten/Kota, cukup satu tapi bnar-benar bernas,” kata Nasrul Abit.

Asisten Deputi Kementerian Pariwisata, Raseno Arya menyatakan bahwa Sumbar adalah daerah yang memiliki masa depan bagus untuk pengembangan pariwisata. “Jadi tinggal bagaimana hari ini semua pihak menyiapkan diri untuk menuju masa depan yang gilang gemilang di dunia pariwisata,” kara Raseno.(why)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru