oleh

KABADIKLAT KEMHAN RI:

Perang Asimetris, Ancaman yang Perlu Waspadai

PADANG (Metrans)

Hingga tahun 2034, Kementerian Pertahanan melalui Badan Diklat Kemhan menargetkan terbentuk 200 juta Kader Bela Negara (KBN) dari saat ini baru mencapai 67 juta kader yang sudah dilatih di berbagai provinsi.

Kepala Badan Diklat Kementerian Pertahanan RI, Mayjen TNI Hastrind Asrin kemarin di Padang menyebutkan bahwa target 200 juta KBN itu adalah sebuah keniscayaan bagi atas semakin kompleks nya tantangan bangsa dan negara hari ini dan di masa datang.


“Dari sisi pertahanan keamanan, kita tidak hanya harus melihat perang konvensional saja tetapi dari perkembangan internasional, yang terjadi adalah perang asimetris yakni perang yang tidak lagi memperhadap-hadapkan pasukan lawan pasukan, alat mesin perang lawan alat perang, senjata lawan senjata,” kata Hastind dihadapan 100 peserta  Kursus Singkat Manajemen Pertahanan Negara Mobile Paket Program Bela Negara di hotel Mercure yang berlangsung selama dua hari (12-13 Juli)

Perang Asimetris, kata Hastind akan melibatkan banyak slagorde negara. Tidak cukup hanya tentara dengan segala perlengkapan dan kesiapannya, tetapi juga melibatkan masyarakat sipil. “Karena yang diserang itu adalah tidak lagi pisik, melainkan mental yang akhirnya menjurus pada kehancuran negara,” katanya.

Revolusi mental yang diwacanakan negara saat ini antara lain, katanya, untuk membangun mental dan jiwa rakyat Indonesia agar menjadi memiliki kemampuan mencegah dan melawan serangan lewat perang asimetris itu.

Hastind mengatakan saat ini Kemhan melakukan berbagai program membentuk KBN sebanyak dari berbagai unsur. “Termasuk akan diberikan pengenalan dan pendidikan dasar bela negara kepada mahasiswa baru yang menjadi kader bangsa di masa depan,” kata jenderal berbintang dua kelahiran Kepulauan Riau 23 Februari 1960 itu.

Sementara itu Danrem 032/Wbr, Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari menyebutkan bela negara yang sedang digelorakan saat ini harus melibatkan berbagai unsur masyarakat. “Tapi jangan terjemahkan bela negara itu hanya angkat senjata saja. Bela negara yang kita maksud ini adalah semua perbuatan baik yang membuat negara ini menjadi bersatu, kukuh, kuat dan jaya. Membuat prestasi yang menaikkan nama bangsa dan negara, juga berarti bela negara,” kata Bakti Agus.

Ia sependapat dengan Mayjen Hastind, bahwa ancaman terhadap negara itu tidak hanya pisik, tetapi juga non pisik seperti terorisme, narkotika, konflik horizontal dan sebagainya. Seluruhnya berpotensi membawa Indonesia kepada disintegrasi.

“Merapatkan barisan dan menyadari adanya ancaman akan membangun perasaan siap siaga dari bangsa untuk menghadapinya,” kata Danrem.

Kursus singkat ini dilaksanakan oleh Kemhan di semua provinsi. Untuk di Sumbar diikuti oleh unsur tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, ormas pemuda, LSM dan kalangan pemerintahan. (eko)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru