oleh



Aktivitas Gempa Mentawai Merupakan Gempa Pembuka di Segmen Mentawai?

PADANG (Metrans)

Gempa tektonik mengguncang wilayah Kepulauan Batu yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera, antara Pulau Nias dan Kepulauan Mentawai, Selasa (5/2) sekira pukul 02.29 WIB.

Gempa yang terjadi tadi pagi dini hari, menurut BMKG memiliki kekuatan M=5,6. Episenter terletak pada koordinat 0,38 LS dan 98,19 BT tepatnya di laut pada jarak 32 km arah barat daya Pulau Telo pada kedalaman hiposenter 24 kilometer. Gempa ini merupakan jenis gempa megathrust  dangkal dengan mekanisme sumber sesar naik (thrust fault).


Berdasarkan informasi yang dihimpun, dampak gempa berupa guncangan kuat dirasakan di Kepulauan Batu dalam skala intensitas III-IV MMI. Di Nias Selatan, Pasaman, Bukittinggi, dan Padang Panjang guncangan dirasakan dalam skala intensitas III MMI. Sedangkan di Pariaman, Padang, dan Payakumbuh guncangan dirasakan dalam skala intensitas II MMI.

Beberapa warga di Pulau Batu dilaporkan sempat terbangun dari tidur, kemudian berlarian ke luar rumah akibat terkejut oleh kuatnya guncangan gempa. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan, sementara hasil pemodelan menunjukkan tidak berpotensi tsunami. Hingga Selasa siang, hasil monitoring BMKG menunjukkan sudah terjadi aktivitas gempa susulan (aftershock) sebanyak 7 kali.

"Jika kita memperhatikan aktivitas kegempaan Kepulauan Batu dengan segmen megathrust Sumatera, tampak lokasi pusat gempa yang aktif tadi pagi terletak pada batas antara segmen Mentawai yang belum lepas energinya dan segmen Nias yang sudah lepas energinya sebagai gempa M=8,7 pada tahun 2005," kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono melalui rilis yang diterima Metrans, Selasa (5/2) sore.

Sementara, kata dia, gempa Pagai berkekuatan M=6,1 yang terjadi pada Sabtu (2/2) lalu juga terletak pada batas antara segmen Mentawai yang belum lepas energinya dan segmen Enggano yang sudah lepas energinya sebagai gempa M=8,4 pada 2007 dan gempa M=7,7 pada 2010. Hingga Selasa siang ini gempa susulan yang terjadi di sebelah barat Pagai sudah mencapai sebanyak 116 kali.

Dikatakan, jika mengacu kepada peristiwa gempa terbaru di Pagai dan Kepulauan Batu di atas, tampak aktivitas gempa hanya terjadi pada tepi ujung selatan dan utara dari Segmen Mentawai.

"Hingga siang ini, beberapa praktisi kebencanaan dan media menanyakan apakah kedua aktivitas gempa tersebut merupakan gempa pembuka (foreshocks) di Segmen Mentawai? Tentu tidak mudah untuk mengatakan sebuah aktivitas gempa disebut sebagai gempa pembuka atau bukan," lanjutnya.

Ia menjelaskan, ada beberapa karakteristik gempa pembuka. Gempa pembuka biasa terjadi pada zona dengan seismisitas rendah atau secara statistik kegempaan memiliki nilai b-value rendah. Jika diamati, wilayah Mentawai memang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang relatif rendah.

Selanjutnya, karateristik berikutnya adalah adanya migrasi titik hiposenter gempa yang semakin cepat menuju titik inisiasi lokasi estimasi gempa utama (mainshock). Semakin mendekati waktu terjadinya gempa utama, maka aktivitas gempa pembukanya akan makin banyak.

"Ciri lain adalah munculnya aktivitas gempa-gempa yang mirip atau disebut sebagai repeaters. Repeaters merupakan serangkaian gempa yang terus terjadi secara berulang-ulang di tempat yang relatif 'sama' di suatu zona tertentu dekat lokasi yang diestimasi sebagai gempa utama," kata dia.

Menurutnya, fenomena tersebut menggambarkan adanya proses pembebanan (loading) yang semakin lama semakin intensif sebelum gempa utama terjadi.

"Analoginya mirip kalau kita mau mematahkan sepotong kayu, secara perlahan-lahan ada retakan-retakan kecil di sekitarnya sebelum benar-benar patah," kata dia.

Sedangkan untuk kasus Kepulauan Mentawai, saat ini meski nilai b-value cenderung rendah, akan tetapi belum terlihat ada tanda-tanda atau karakteristik gempa pembuka seperti yang tersebut di atas.

"Kita harus terus melakukan monitoring aktivitas gempa di Segmen Mentawai secara intensif. Umumnya gempa kuat dengan Magnitudo 8,0 ke atas memang hampir pasti dapat diamati gempa pembukanya. Sebagai contoh adalah gempa Tohuku M=9.1 pada 2011, gempa Chili M=8,8 pada 2010, dan gempa Chili M=8,1 pada 2014. Beberapa gempa dahsyat ini memiliki aktivitas gempa pembuka yang teramati dengan jelas 3 bulan sebelumya," jelasnya.

Terkait meningkatnya aktivitas kegempaan pada Segmen Mentawai dan sekitarnya akhir-akhir ini, ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada, tidak perlu takut dan panik. Secara alamiah, gempa Mentawai suatu saat akan terjadi tapi entah kapan, tak akan ada yang tahu pastinya.

"Di dalam ketidak pastian ini, seluruh lapisan masyarakat seyogyanya harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Bangunan rumah harus didesain kuat untuk menahan guncangan gempa. Masyarakat juga harus mengerti bagaimana cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami," lanjutnya.

Kemudian kata dia, evakuasi mandiri tsunami harus menjadi pemahaman alam bawah sadar bagi seluruh masyarakat pesisir dengan cara menjadikan gempa kuat sebagai peringatan dini tsunami. Sehingga jika masyarakat merasakan guncangan gempa kuat di pantai, segeralah bergegas pergi menjauhi pantai. (Raihan)


Tag:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru