oleh



Petani Sawit di Pessel Menjerit, Anggota DPRD Desak Pemkab Atasi Anjloknya Harga TBS

PAINAN (Metrans)

Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Darwiadi mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) setempat untuk menangani anjloknya harga sawit yang dikeluhkan petani sawit di daerah itu.

"Saya berharap kepada pemerintah setempat agar secepatnya menangani permasalahan ini. Karena ini kan menyangkut nasib bagi petani sawit," kata dia kepada Metrans, Kamis (4/7).


Darwiadi mengakui bahwa peningkatan infrastruktur pembangunan di daerah itu sangat berkembang salah satunya dari sektor pariwisata. Namun, tidak hanya cukup dengan hal itu.

Dinamika yang berkaitan dengan perekonomian masyarakat (rendahnya harga TBS sawit) yang merugikan petani sawit perlu juga hendaknya menjadi perhatian. Sebab, kata dia, harga jual TBS di tingkat petani saat ini hanya Rp450/kg. Kondisi tersebut membuat perekonomian petani sawit semakin terpuruk.

"Guna menyelamatkan nasib petani, tanpa adanya campur tangan dari pemerintah mustahil petani sawit bisa sejahtera," tegasnya.

Menurutnya, permasalahan yang dihadapi petani sawit saat ini dengan harga yang begitu rendah itu berakibat pada turunnya kemampuan daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga secara umum akan menyulitkan perekonomian masyarakat.

Maka dengan ini, pihaknya secepatnya akan memanggil pihak-pihak terkait seperti dinas perkebunan, dinas perdagangan dan perekonomian.

"Kita akan berkoordinasi dengan ketua DPRD dan akan memanggil pihak terkait termasuk PT. Incasi raya dan PT. Kemilau," ujarnya. 

Sementara, salah seorang petani sawit, Roki mengaku anjloknya harga sawit di daerah itu semenjak bulan puasa kemarin. Dirinya menjual kepada pengepul dengan harga Rp450 per kilogram. Sehingga mengalami penurunan pendapatan dari hasil panen sawitnya.

"Ya gimana lagi pak, kita tidak bisa berbuat apa apa," ungkapnya.

Dikatakannya, atas anjlok harga sawit tersebut, dirinya mengaku untuk merawat perkebunan menjadi boomerang baginya dalam pengolahannya.

"Dua tahun sebelumnya masih mendingan. Tapi sekarang, kita terpaksa mengurangi pupuknya untuk pengolahan sawit ini. Dan saya berharap kepada pemerintah agar secepatnya menangani persoalan ini sehingga yang kami alami saat ini tidak berlarut-larut," harapnya. (mil)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru