PNS Unand Ditangkap karena Nyambi Jadi Bandar Narkoba, Ratusan Gram Sabu Disita

Seorang oknum PNS Unand ditangkap Polsek Pauh lantaran nyambi jadi pengedar sabu.

PADANG (Metrans)

Seorang pria yang berprofesi sebagai sopir bus di kampus Universitas Andalas (Unand) dibekuk jajaran Polsek Pauh. Pria berinisial JSM alias Jas (49) yang sudah berstatus PNS itu dibekuk lantaran diduga menjadi pengedar narkotika jenis sabu.

Kapolsek Pauh, Kompol Hamidi mengatakan, pria tersebut sudah 2 tahun menjadi pengedar barang haram itu. Begitu mendapat informasi, pihaknya langsung melakukan penyelidikan selama sepekan.


Alhasil, saat dibekuk, dari tangan pelaku berhasil disita barang bukti berupa narkotika jenis sabu seberat 122,01 gram dengan rincian 1 bungkus paket besar, 1 bungkus paket menengah, 4 bungkus paket sedang, 1 bungkus paket kecil sisa pakai.

Berdasarkan informasi, narkotika jenis sabu tersebut dijual seharga Rp130 juta yang didapat dari tangan pelaku saat dilakukan penangkapan di Pool bus Kampus Unand, Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh.

"Saat dilakukan penggeledahan, kami menemukan barang bukti narkoba jenis sabu seberat lebih kurang 122,01 gram di dalam tas yang disandang pelaku, kami pun langsung membawa pelaku beserta barang bukti ke Polsek guna penyelidikan lebih lanjut," ujar Kapolek Pauh Kompol Hamidi, saat menggelar jumpa pers, Senin (24/2).

Kemudian Hamidi membenarkan bahwa pelaku merupakan seorang PNS Unand sebagai sopir bus yang sejak lama dicurigai. Namun setelah seminggu dilakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti-bukti serta informasi, tim Opsnal langsung menuju lokasi tempat pelaku berada.

"Setelah informasi sudah benar-benar lengkap, tim Opsnal melakukan penggerebekan terhadap pelaku yang saat itu sedang berada di Pool Bus Unand," sambung Hamidi.

Setelah penangkapan, lanjut dia, pihaknya hingga saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Namun untuk pelaku sendiri juga telah ditetapkan sebagai tersangka dan akan mendapat ganjaran berdasarkan Undang-undang yang berlaku.

"Ketika dimintai keterangan, tersangka mengaku telah 2 tahun menjalani profesi sebagai pengedar dan tidak pernah melakukan transaksi di ruang lingkup kampus itu sendiri. Tetapi kita bisa percaya begitu saja, yang jelas kami terus melakukan pengembangan," tegas Hamidi.

Lebih lanjut kata dia, tersangka akan dijerat dengan pasal 114 ayat 2 jo 112 ayat 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009. "Dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara. Kemudian, berat bersih barang bukti yang kami amankan sejumlah 122,01 gram," tuturnya.

Sementara itu, tersangka mengaku, barang haram tersebut diedarkannya ke daerah lainnya. Uang hasil penjualannya, digunakan untuk membantu orang kurang mampu dan anak-anak sekolah.

"Selain mengedarkan saya juga menggunakannya," ujarnya tertunduk.


Jangan Lewatkan