Polisi akan Gelar Perkara Kasus Wali Nagari di Pessel yang Diduga Aniaya Siswi

Penyidik saat memeriksa Wali Nagari Muaro Aie, Joenaidi terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang siswi di daerah itu.

PAINAN (Metrans)

Penyidik Kepolisian Sektor (Polsek) Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan akan melakukan gelar perkara terkait kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Wali Nagari Muaro Aie, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Joenaidi terhadap seorang siswi berinisial WA (17).

Kapolsek Bayang, Iptu Advianus mengatakan, pihaknya sudah melakukan penyelidikan. Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil visum terhadap korban, untuk segera melakukan gelar perkara yang direncanakan akan digelar dalam minggu ini


"Penyelidikan sudah, saat ini masih menunggu gelar perkara, dijadwalkan dalam minggu ini," ungkap Iptu Advianus ketika dihubungi Metrans, Selasa (25/2).

Saat ini status kasus tersebut masih penyelidikan. Jika sudah memenuhi unsur-unsur di antaranya yaitu hasil visum dan keterangan saksi, pihaknya akan meningkatkan status ke penyidikan.

"Kalau itu sudah terpenuhi unsur yaitu hasil visum dan keterangan saksi, akan kita lakukan sidik," lanjut dia.

Hingga kini, status Joenaidi masih terlapor. Untuk menentukan status, Kapolsek mengatakan akan melakukan gelar perkara terlebih dahulu.

"Nanti kami tentukan (status hukumnya) dalam gelar perkara," imbuhnya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga menerima pengaduan dari pihak terlapor terkait perbuatan tidak menyenangkan dari pelapor. Namun yang bersangkutan belum membuat laporan, sedangkan istrinya telah melaporkan orang tua pelapor.

"Istrinya dari terlapor juga melaporkan. Jadi kedua-duanya ini sama-sama kita proses,  karena semua itu sama di mata hukum," kata dia.

Sebelumya, Penyidik Polsek Bayang memanggil Wali Nagari Muaro Aie, Joenaidi, terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang siswi di daerah itu, Kamis (13/2).

Kapolsek Bayang, Iptu Advianus mengatakan, pemanggilan kepada wali nagari tersebut terkait kasus dugaan penganiayaan yang dilakukannya terhadap seorang siswi.

Dimana sebelumnya, Rabu (12/2) pihaknya telah meminta keterangan dari pelapor (korban, -red) yakni saksi dari korban dan juga saksi dari masyarakat.

Berdasarkan dari keterangan terlapor, kata Advianus, persoalan tersebut berawal dari jaringan internet nirkabel (WiFi) yang ada di daerah setempat.

Saat itu korban sedang bermain handphone bersama anak terlapor. Kemudian karena kata sandi WiFi yang terus diganti di kantor wali nagari tersebut, korban melontarkan kata-kata yang diduga tidak menyenangkan hati anak dari terlapor. 

Kemudian lanjut terlapor kepada penyidik, saat itu ia bersama temannya sedang berada di halaman rumahnya dan berhentilah korban dengan mengendarai motor secara mendadak di depannya, lalu meludahi terlapor yang jauh dari sampingnya.

"Karena korban seorang anak pelajar lalu membuntuti dengan sepeda motor dan sampai depan rumah orang tua terlapor dimana korban sedang duduk di atas kendaraan. Lalu terlapor langsung mendekatkan tangan kirinya ke samping kepala korban," kata Kapolsek.

Ia melakukan hal itu sembari berkata, "Pakai otak kamu, kamu seorang pelajar, masa kamu meludahi saya seorang pemimpin" dengan mimik wajah yang tidak menyenangkan sambil mendorong samping kepala korban sehingga motor yang didudukinya rebah. Mendapat tindakan seperti itu, korban menjawab bahwa dia tidak meludahi sang wali nagari itu.

"Setelah itu, terlapor masuk ke dalam rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Tidak berselang waktu lama lalu terlapor pulang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motornya, akui terlapor," pungkas Kapolsek.


Jangan Lewatkan