oleh



Prostitusi dan Nilai Kemahalan di Era Digital

Oleh: Raihan Al Karim (Wartawan Muda)

Pelacuran, berasal dari bahasa Latin “Pro-stituere atau Pro-staueere” yang berarti membiarkan diri berbuat zina, pencabulan, atau dikenal juga dengan istilah WTS (Wanita Tuna Susila). Tak dapat disangkal jika dikatakan bahwa pelacuran itu adalah “profesi”. Profesi yang tak lekang oleh waktu, lintas peradaban, lintas kelas karena ini merupakan tingkah laku yang bebas, lepas tanpa kendali dan cabul, karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenis tanpa mengenal batas-batas kesopanan. Dilakoni di tepi rel kereta api yang kumuh dan bau pesing hingga di kamar-kamar hotel bintang lima yang dipenuhi aroma parfum mahal. Dapat disebut, pelacuran selalu ada di setiap negara berbudaya, sejak zaman purba sampai sekarang. Ini senantiasa menjadi masalah sosial, atau menjadi objek urusan hukum tradisi.

Biasanya harga perempuan dalam dunia prostitusi itu ditentukan dari beberapa sektor fisik di antaranya, kecantikan, gaya hidup, identitas, hingga ruang lingkup tempat mereka 'bertransaksi'. Nilai tertinggi penjual jasa seks tidak selalu berdasar fisik tubuh, tapi status, usia, dan popularitas yang melekat pada fisiknya. Pelacur tidak hanya menjual tubuh, tapi justru menjual simbol/status yang melekat pada tubuhnya. Ada yang meletak harga mulai ratusan ribu, hingga ratusan juta. Seperti tarif yang dipasang oleh VA yang baru ditangkap beberapa waktu lalu. VA memasang tarif Rp80 juta hanya untuk 'sekali main'.


Dalam profesi pelacuran juga dari zaman ke zaman semakin berkembang juga tingkatan dan bentuknya, ini yang kemudian menjadi pemicu sehingga pelacuran menjadi sumber pencarian. Jika ia menjadi sumber mata pencaharian, maka jangan menuntut kegiatan seperti ini akan hilang, melainkan akan tetap tumbuh berkembang, tak salah jika dikatakan hal ini menciptakan ketergantungan atas keloyalan mereka untuk hidup, lagi pula nafsu seks tak akan pernah surut ia menjadi salah satu hakikat manusia. Ya meskipun hal banyak melanggar nilai-nilai dalam masyarakat.

Beragam kajian mencoba menguak sebab dan akibat dari profesi ini. Didiskusikan dalam bingkai hukum hingga moralitas. Namun kerap tidak menyentuh tataran realitas. Sehingga tidak menyentuh dalam upaya memastikan supaya tidak ada lagi orang yang terjebak dalam perdagangan manusia dan eksploitasi di dalamnya.

Perempuan yang menjadi penjaja seksnya asyik dijadikan objek cerita. Objek yang dianggap paling layak diberitakan dan sekaligus dipermalukan. Sampai kerap kita lupa bahwa fenomena ini tidak hanya dibangun oleh penjaja seks semata. Tetapi juga pembelinya yang memiliki fantasi seksual yang perlu disalurkan. Yang bisa jadi tidak bisa ia lakukan dengan pasangan yang sah, atau dengan orang yang ia cintai. Entah karena ketidakmampuan komunikasi, kekhawatiran ditolak, atau juga merasa melanggar kesucian jalinan kasihnya karena bercampur dengan fantasi seks yang bisa jadi di masyarakat bukan saja dianggap aneh, tetapi juga menyimpang.

Seharusnya, ada Undang-undang perubahan tentang prostitusi. Betapa tidak, penetapan tersangka terhadap artis yang terlibat prostitusi memang sulit dengan landasan KUHP, kecuali perantara 'bisnis' tersebut (germo). Tidak hanya menjadikan perantara sebagai tersangka, tetapi juga konsumen dan pelaku prostitusi itu. Karena yang paling menikmati hasil transaksi itu adalah pelaku prostitusi itu sendiri, bukan germo yang bertugas sebagai perantara. Perantara hanyalah bagian kecil dalam 'bisnis' ini. Karena peran perantara hanyalah bersifat sebagai jembatan transaksi. Lewat agensi atau event organizer memiliki peran perantara meski tidak dalam konteks perekrutan, tapi lebih sekadar menghubungkan. Ada model/artis yang menawarkan diri maupun sengaja ditawari orang-orang bekerja di lingkungan model/artis.

Dunia prostitusi tidak pernah berhenti berubah. Kajian mengenai perubahan sosial dalam lingkup penyaluran hasrat libido terus menemukan bentuk dalam berbagai varian. Prostitusi dan perubahannya merupakan persoalan yang tak pernah berhenti dikontroversikan. Transaksi seksual juga tidak lagi memerlukan tempat ketika menggunakan medium online. Munculnya varian-varian baru prostitusi sangat fluid sebagai tempat transaksi seks.

Pelacuran online mengajari perempuan akan nilai kemahalan. Mereka meninggalkan prostitusi konservatif dan memilih menjadi pekerja seks laten. Prostitusi online memberikan layanan konsumen seksual yang lebih cepat, variatif, dan deskriptif dalam memilih kriteria perempuan.

Perkembangan media online melahirkan media sosial dengan berbagai aplikasi yang membentuk interaksi komunikasi yang lebih kompleks. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi (TI), khususnya media sosial. Media sosial menjadi halaman baru bagi penjual jasa seks untuk mempromosikan diri. Ratusan akun media sosial selalu memperlihatkan tubuh secara vulgar dengan kata-kata yang berkaitan dengan aksi jual beli seks. ‘Bisnis’ haram itu semakin mudah dilakukan. Penjaja seks komersial (PSK) menjajakan diri lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, WeChat dan BeeTalk. Melalui media sosial pula pria hidung belang atau ‘konsumen’ semakin mudah mencari pemuas nafsu syahwat sesaat.

Penggunaan nama untuk pencarian awam dengan menggunakan keyword seperti pelacur, PSK, purel, atau pekerja seks akan sulit ditemukan. Mereka telah mengonstruksi dunia transaksi dengan istilah booking, BO, ST, LT. BO merupakan istilah untuk Booking Order, ST adalah pelayanan untuk waktu Short Time dan LT adalah pelayanan untuk waktu Long Time. Biasanya, istilah tersebut bisa digunakan untuk menemani pria hidung belang untuk sekedar karaoke atau menginap di hotel.

Perempuan membuat slot karena dia membatasi eksekusi seksual setiap harinya. Setiap hari dia memasang 3 slot (transaksi). Bila hari itu sudah penuh, dia akan mengalihkannya ke hari lain. Angel dapat melakukan mobilisasi tempat transaksi maupun eksekusi di luar daerah tempat tinggalnya.

Dia melakukan perjalanan ke beberapa daerah dan tinggal beberapa hari. Pindah ke tempat lain sambil mempromosikan diri lewat akun sosial medianya. Mereka mengintegrasikan Line, WhatsApp, hingga Mi Chat yang kini kian banyak dipakai pelaku prostitusi online. Mereka menginap di hotel yang dijadikan tempat eksekusi seksual. Lewat promosi di media sosial, dia tidak menggratiskan kamar karena sudah membayar sebagai tempat menginap.

Tak hanya itu, pelaku prostitusi juga menjadikan jumlah follower (pengikut) sosial medianya sebagai standar kredibilitas terhadap konsumen. Semakin banyak follower, pengguna akun yang mereka gunakan untuk 'transaksi' semakin valid. Sebab, para konsumen 'bisnis' esek-esek itu juga tak mau sembarang pilih. Sebab, juga tak sedikit kejahatan penipuan di dunia ini. Penipuan biasanya dilakukan pengguna yang membuat akun sosmed baru, dengan menyalin seluruh foto dan video milik orang yang diakui sebagai miliknya. Seolah-olah dia juga menjajakan diri untuk bertransaksi seks, namun hal itu kerap tak dilakukan. Setelah mendapat korban, penipu itu biasanya mematikan akunnya dan membuat akun baru lagi untuk mencari korban baru.

Yang paling dirugikan atas merebaknya prostitusi online ini adalah prostitusi dunia hiburan. Pencari layanan jasa seks yang datang ke tempat hiburan kian berkurang. Media sosial mereka gunakan untuk presentasi tubuh. Penilaian selalu didasarkan pada hasil meski kenyataannya bisa jauh berbeda. Orang tahu Wechat, BeeTalk, Twitter, maupun Instagram dimanfaatkan para penjual jasa seks untuk transaksi.

Khusus berkaitan dengan fenomena prostitusi online dengan nilai transaksi yang membuat mata melotot dan jidat berkerut, bisnis prostitusi tak meluluh semata soal jual beli antara client dan penjaja. Dengan muncikari sebagai perantara. Dari dulu muncikari juga dikenali sebagai media pelicin dalam 'bisnis' ini. Jika tender proyek hendak dimenangkan, jangan lupa jasa pelicin disodorkan.

Enam tahun lalu dari hasil investigasinya, Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto mengingatkan gratifikasi seksual semakin marak. Jika kita berhenti bertanya, dan hanya soal 80 juta bisa untuk apa, padahal bisnis ini muaranya bisa kemana-mana, mata kita tidak akan pernah berpaling untuk hanya sekedar membingkai kasus ini dalam sensasi yang menempatkan pesohor yang terlibat menjadi korban bullying se-Indonesia. Padahal dalam fenomena di manapun air mengalir sampai jauh. Mengabaikannya sama saja dengan menenggelamkan akar masalah, bukan menyelesaikannya. (***)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru