Puncak Penyebaran Covid-19 di Sumbar Diprediksi Akhir Mei, Pemprov Bahas Skenario Terburuk

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit dalam jumpa pers online Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumbar bersama awak media, Jumat (3/4).

PADANG (Metrans)

Puncak penyebaran virus corona atau Covid-19 diprediksi akan terjadi pada akhir Mei 2020 di Sumatera Barat (Sumbar), waktu puncak tersebut bertepatan pada Hari Raya Idul Fitri 1441 Hirjiah. Pasalnya para perantau sudah dipastikan akan mudik lebaran ke kampung halaman.

"Covid-19 ini kalau tidak segera ditangani, berdasarkan kajian para pakar, akan terjadi puncak pada tanggal tanggal 24 hingga 27 Mei, itu adalah hari pertamanya lebaran. Berarti saat kita puasa, ini dia akan masih menuju puncak, belum ada pengurangan sama sekali," kata Nasrul Abit dalam jumpa pers online Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumbar bersama awak media, Jumat (3/4).


Ia mengatakan, untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar sudah mengkaji skenario berat hingga paling buruk yang akan dialami Sumbar akibat pandemik virus corona (Covid-19) ini. Ia pun turut mengimbau masyarakat agar tetap waspada.

"Tentu ini yang perlu kita waspadai. Skenario terburuk sudah kita bahas, kita siapkan rumah sakit rujukan untuk pasien terjangkit virus corona, kemudian hampir 300 tempat tidur yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman dan RSUD Rasidin Padang. Kemudian Orang Dalam Pemantauan (ODP), karantina sudah disiapkan hampir 1.000 kamar semua," beber dia.

Kemudian, kata dia, orang yang berstatus ODP Covid-19 harus dilakukan karantina pada tempat yang telah disiapkan pemerintah. "Bagaimana dengan ODP? Karantina harus kita lakukan, kita sudah siapkan beberapa tempat, baik dalam Kota Padang, Solok, Payakumbuh atau Bukittinggi," lanjut dia.

Lebih lanjut kata dia, Bupati/Walikota di Sumbar juga sudah diminta untuk menyiapkan itu, karena tidak mungkin jika ditangani Pemprov seluruhnya.

"Bupati atau Walikota sudah diminta menyiapkan itu, karena di provinsi semua tidak mungkin. Semua kepala daerah harus siap dengan kemungkinan terburuk. Jadi, apabila orang mengalami panas biasa, kalau tidak terinfeksi corona, dirawat di kabupaten/kota saja," ulas dia.

Kemudian, ia menjelaskan, bahwa pemeriksaan yang dilakukan di perbatasan-perbatasan kabupaten/kota bukanlah pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Namun, itu hanyalah pendataan orang yang masuk atau keluar daerah.

"Itu adalah pendataan orang bahwa mereka datang dari daerah yang terjangkit, mereka dijadikan ODP dan lapor RT/RW setempat, dan tolong jangan dilanggar. Kalau ada yang langgar, segera lapor ke polisi. Supaya tidak terjadi yang dikhawatirkan seperti yang disampaikan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas. Kalau disiplin, pasti sudah aman akhir April, tak perlu menunggu puncak," ujar dia.

Selanjutnya, lanjut Nasrul Abit, jika penanganan seluruh Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sudah selesai, orang-orang yang berstatus ODP juga akan diprioritaskan untuk diperiksa. Ia merinci, hingga saat ini, terdapat 3.276 ODP dan 1.233 di antaranya sudah selesai pemantauannya.

"Jadi kemudian masih ada 2.043 ODP, kita menunggu waktu, kapan Laboratorium Biomedik FK Unand bisa, langsung kita masukkan. Ayo kita sadari, sebenarnya kalau kita sadar, kan luar negeri sudah lakukan. Dua minggu saja sudah cukup, cuma kita kan tidak menyadari, dan akan lebih lama (memberantasnya). Perkiraan akhir Mei, tentu ini perlu kita waspadai semua," beber dia.

Untuk diketahui, hingga siang ini, Jumat (3/4) sudah terdapat 14 orang pasien yang dinyatakan positif terjangkit virus corona atau Covid-19 di Sumbar. Sembilan orang pasien positif Covid-19 diisolasi di Rumah Sakit Umum Pusat M Djamil Padang dan Rumah Sakit Umum Daerah Achmad Muchtar Bukittinggi. Sementara, empat pasien positif Covid-19 di Sumbar melakukan isolasi mandiri. Satu lagi pasien positif telah meninggal dunia.

[Raihan Al Karim]


Jangan Lewatkan