oleh



Sidang ke-9 Wabup Pessel, Saksi Sebut Material Hasil Pengerukan Sodetan Terdapat Terumbu Karang

PADANG (Metrans)

Pengadilan Negeri Klas IA Padang kembali menggelar sidang kasus dugaan perusakan Mangrove di kawasan Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan dengan terdakwa Wakil Bupati Pessel, Rusma Yul Anwar, Kamis (14/11).

 


Pada sidang ke-9 ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Hafidz Kurniawan Cs kembali menghadirkan tiga orang saksi meringankan yakni Jasril, Mardi dan Azwir Chan, karena terdapat pada berkas perkara.

Dalam sidang tersebut, Jasril menegaskan, sodetan atau olo di lokasi diperluas terdakwa Rusma Yul Anwar.


"Sodetan di lokasi diperluas oleh terdakwa dengan menyuruh orang mengoperasikan alat berat, dan material hasil pengerukan yang di antaranya merupakan terumbu karang ditempatkan pada sisi sodetan, kiri dan kanan yang terdapat mangrove," kata Jasril di Pengadilan Negeri Klas I A Padang, Kamis (14/11).

Di hadapan majelis hakim, Jasril menyebutkan sodetan di lokasi semakin lebar dengan luas lebih kurang 15 meter, padahal sebelumnya luasnya hanya sekitar lima meter.

"Di antara material hasil pengerukan terdapat sejumlah terumbu karang, kemudian ditempatkan pada sisi sodetan untuk keluar masuknya kapal," katanya.

Sementara itu, saksi lainnya, Mardi menyebutkan ia pernah ke lokasi bangunan yang dimiliki terdakwa Rusma Yul Anwar. Di lokasi ia melihat ada bangunan 4 rumah di puncak bukit, sementara 1 bangunan lagi arah ke tepi laut ditumbuhi mangrove sekitar 1 sampai 2 meter. 

"Benar, Pak. Saya berdomisili di sana. Dari informasi yang beredar dari masyarakat bangunan itu milik pribadi Wakil Bupati Rusma Yul Anwar untuk penunjang pariwisata dan tempat berkemah. Tapi terkait izinnya saya tidak tahu," kata dia

Ia mengakui, lokasi yang dibangun terdakwa dulunya adalah areal peladangan. Kemudian dibangun Rusma Yul Anwar pada 2016. Di sekitar pinggiran laut terdapat tumbuhan Bakau (mangrove) kemudian ada olo sebagai tempat bersandar kapal kecil.

"Dulu waktu saya kesana olo itu masih dangkal dan ukurannya kecil sekitar 5 meter. Kemudian setelah ada pengerjaan menggunakan alat berat ekskavator ukurannya bertambah besar sekitar 15 meter. Akibat pengerukan dan timbunan itu memang ada sejumlah bakau yang rusak," ujarnya.

Saat sidang, Hakim Ketua sempat menegur PH Vino Oktavian dikarenakan terlalu detail mempertanyakan apakah olo itu sama dengan dermaga.

"Jangan tanyakan itu pada saksi. Dia ini bukan ahli dermaga. Nanti, itu ada ahlinya yang menjawab. Saudara bisa ajukan itu nanti pada sidang berikutnya," kata Hakim Ketua menegaskan. 

Kemudian pada saksi ketiga, Azwir Chan, ia hanya membenarkan di sana terdapat sodetan yang berukuran sempit, namun lama kelamaan ukurannya bertambah lebar dan ia mengaku tidak tahu siapa yang memperlebarnya.

Informasi yang dihimpun, sidang kembali dilanjutkan pada Rabu (20/11) mendatang dengan agenda mendengar keterangan saksi ahli. (mil)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru