oleh

DARI FAM TRIP DINAS K-UKM SUMBAR

Sumbar Punya Koperasi-koperasi Hebat (1)

PADANG (Metrans)

Mulai dari koperasi yang dimulakan semangat anggota untuk mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat dan menguntungkan perekonomian sampai koperasi yang tumbuh dan berkembang tanpa bantuan penguatan finansial dari perbankan namun bisa menghasilkan aset yang luar biasa ada di Sumbar.

Metrans dekat dengan koperasi-koperasi ini dalam kesempatanFamiliarization Trip (Fam Trip) yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UKM Sumbar dalam beberapa waktu agenda yang sebagiannya sudah dilakukan oleh Dinas. Agenda Fam Trip, atau kegiatan perjalanan sosialisasi, digelar Dinas K-UKM Sumbar dalam dan untuk beberapa waktu agenda ke depan yang dimulakan pada 19-20 April kemarin dengan kunjungan pada empat koperasi yang berada di Kabupaten Agam: KSU Saadah Panampuang Biaro, Koppontren Dinniyah Pasia, KPN Ampek Angkek Canduang, dan KPN-RI Wilayah Banuhampu-Sungai Pua.


Mewakili Kepala Dinas K-UKM Zirma Yusri, Sekretaris Dinas K-UKM Prita Wardhani menyatakan bahwa kegiatan Fam Trip ini merupakan upaya untuk meninjau langsung perkembangan koperasi yang ada di Sumbar dan mengambil manfaat serta masukan positif terkait perkoperasian dari koperasi-koperasi 65yang berkembang baik tersebut.

“Dengan kegiatan Fam Trip ini, konsepseing is believing kita lakukan, artinya kita melihat langsung keberhasilan para koperasi tersebut. Kegiatan seperti ini biasanya digelar oleh kementerian, namun tidak ada salahnya kita mengadopsi,” kata Prita.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubag TU yang langsung turut ke lapangan bersama media dalam agenda Fam Trip, Yusran Ance, menambahkan bahwa kegiatan Fam Trip dilakukan untuk bisa memandang sisi lain dari koperasi-koperasi yang memberi manfaat luar biasa bagi para anggotanya.

“Masih banyak orang yang belum memahami hal tersebut. Sementara, koperasi bisa membantu para anggota terhadap masalah perekonomian. Contohnya seperti koperasi-koperasi yang kita kunjungi di Fam Trip ini,” ujar Ance.

Seperti Koperasi Serba Usaha As Sa’adah di Jorong Surau Lauik Kanagarian Panampuang Kecamatan Ampek Angkek Canduang Kabupaten Agam, misalnya, jadi salah satu contoh koperasi kecil namun sarat pemberdayaan anggota dan pengembangan keuangan lembaga yang luar biasa. Diprakarsasi oleh TP PKK Jorong Surau Lauik pada 11 Maret 2001, koperasi dengan 63 orang pendiri yang kemudian berbadan hukum Desember 2003 ini kini berkembang dan benar-benar dirasakan manfaat oleh para anggotaya yang kini berjumlah 273 orang. Bergerak di bidang UKM, pertanian, dan lainnya, koperasi yang dibatasi untuk satu jorong ini, berawal dari modal sendiri, pada tahun 2004 mendapat kepercayaan berupa diberi bantuan modal dana bergulir Rp40 juta dari Pemerintah Provinsi Sumbar yang kemudian mampu dilunasi pada 2009.

“Kami bersyukur punya anggota yang sangat serius berkoperasi. Mereka merasakan manfaat dari koperasi sehingga dana usaha mereka masing-masing berkembang,” ungkap Ketua KSU As Sa’adah Nina Ramadani pada Metrans.

Di tahun 2006, koperasi ini kembali dapat kepercayaan bantuan modal Rp100 juta yang bisa dilunasi ditahun 2018, on time.

"Di tahun 2009 Kami dapat dana hibah PKL Rp19.5 juta, yang disalurkan masing-masing Rp500 ribu pada anggota. Kemudian pada 2010, Kami dapat Hibah Dana Perkasa dari Kemenkop dan UKM Rp50 juta. Pada tahun 2012, dana hibah PKL kembali didapatkan Rp50 juta dan kami salurkan pada anggota masing-masing Rp1 juta,” papa perempuan berusia 39 tahun ini penuh semangat.

Nina mengatakan motivasi para anggota untuk berkoperasi sangat tinggi sehingga aktivitas para anggota juga sangat intens.

Rapat Aggota Tahunan (RAT), sebagai satu syarat soliditas sebuah koperasi, dilakukan oleh KSU As Sa’adah di Januari setiap tahunnya. Koperasi yang kini beraset Rp1.167.881.193,- dan punya SHU Rp1.238.082.000,- ini sadar betul konsistensi dan kredibelitas koperasi salahsatunya ditentukan oleh konsistennya mereka melakukan RAT dan memberi laporan keuangan secara akurat dan bertanggungjawab.

Tak memungkiri, koperasi ini pernah menghadapi kredit-kredit macet dari para anggota, tepatnya di tahun 2015. Namun, berhasilnya tingkat kesadaran memiliki yang tinggi dibangun oleh para pengurus koperasi yang dulu bermodal awal Rp1.8juta ini menjadikan masalah tersebut bisa teratasi dengan baik.

“Kami menanamkan kepada pengurus, pengawas, para anggota rasa memiliki dan keterbukaan yang tinggi. Kami juga menjalankan kedisiplinan untuk setoran pinjaman. Kemarin masih menerapkan sistem denda. Tapi sejak Kami ingin mengubah lembaga jadi koperasi syariah, Kami akan memperhitungkan sistem denda ini karena dalam konsep syariah denda jadi pendapatan tidak diperbolehkan, sama dengan riba,” jelas Nina.

Koperasi yang dulu didirikan di masjid ini sekarang punya bangunan sendiri senilai Rp186 juta. “Dulunya tanah ini milik pengawas yang dijual ke koperasi seharga Rp49 juta,” sela Nina.

Ibu dua anak ini menjelaskan, KSU As Sa’adah bertekan ingin segera jadi koperasi syariah. Meskipun tidak bisa otomatis langsung mengubah diri karena berbagai hal perlu dipenetrasi oleh para anggota, namun pelaksanaan akad sudah diupayaka dalam pola syariah.

Di jorong dengan 585 Kepala Keluarga, berpopulasi 2.000 jiwa lebih ini, KSU Sa’adah hidup dan menghidupi para anggotanya. Untuk operasional, awalnya pengurus koperasi sendiri tidak terima uang transport atau lelah. Pengurus hanya dapat bagian 10 persen dari SHU yang dibagian. “Lima tahun pertama kami bersifat sosial. Setelah itu baru Kami mulai pikirkan kesejahteraan,” kata Nina. (yyn)

 


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru