Tawuran dan Balap Liar di Padang, Kenakalan Remaja Biasa?

Raihan Al Karim. (dok)

Oleh: Raihan Al Karim (Wartawan Muda)

Setelah disuguhkan dengan adanya praktik-praktik dugaan prostitusi di Kota Padang, kini publik kembali dihebohkan dengan maraknya aksi tawuran dan balap liar, seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini. Tawuran sudah menjadi penyakit masyarakat yang sangat meresahkan. Dikatakan meresahkan dan menakutkan, karena tawuran merupakan aksi kejahatan kolektif yang menyebabkan banyak orang terganggu dan bahkan menjadi korban.

Realitas selama ini membuktikan tawuran merupakan tindak kekerasan yang tergolong sebagai kejahatan kolektif, berupa aksi perkelahian massal, dan bukan pula perkelahian biasa, seperti berduel atau adu jotos dengan tangan kosong. Aksi tawuran yang terjadi selama ini sudah banyak yang melampuai batas-batas kewajaran, bahkan dinilai sangat brutal, destruktif dan sangat sadis. Bahkan sebagian dari mereka menjadikan tawuran sebagai modus untuk melakukan aksi begal seperti yang diungkap Satreskrim Polresta Padang pada Sabtu (4/1/2020) lalu.


Fakta-fakta yang bisa kita dapatkan ketika aksi tawuran terjadi, para pelaku tawuran tersebut berkelahi bahkan berperang beramai-ramai. Perkelahian itu biasa dilakukan antar dua kelompok masyarakat, antar geng, atau antar kampung. Tawuran itu tak lagi hanya mengandalkan tangan kosong, tapi sudah menggunakan senjata tajam berbagai jenis. Mereka yang kerap terlibat tawuran, sudah membekali diri dengan "senjata", entah itu celurit, pedang samurai, klewang, pisau, ikat pinggang panjang yang ujungnya diikatkan gear besi dengan gigi tajam, dan senjata lainnya.

Senjata-senjata itu tentunya sangat berbahaya dan dapat menyebabkan lawan atau kelompok mereka sendiri tewas dalam aksi tersebut. Semua peralatan itu bukanlah benda yang mudah ditemui di tempat umum, tentu harus dipersiapkan dulu. Tak jarang mereka sudah membawa dari rumah, menyimpannya di dalam tas, di dalam jok sepeda motor mereka atau menyembunyikan di suatu lokasi.

Untuk melakukan aksi tawuran tersebut, mereka tak memperhatikan waktu. Contohnya saja pada Jumat (14/2/2020) lalu, di kawasan GOR H. Agus Salim, gerombolan tiga unit sepeda motor mondar-mandir di lokasi tersebut. Padahal siang itu, masyarakat baru saja menunaikan salat Jumat dan aktivitas makan siang. Mereka yang diketahui mayoritas masih berstatus pelajar dan masih di bawah umur itu, bak “jagoan jalanan”. Di antara mereka, tampak membawa senjata tajam jenis pedang samurai sebanyak dua unit.

Belum lagi aksi-aksi tawuran dan balap liar yang mereka lakukan di setiap Sabtu malam hingga Minggu menjelang subuh. Tak sedikit warga yang mengeluh akibat dari perbuatan mereka ini. Betapa tidak, selain warga setempat berpotensi menjadi korban, properti dan barang-barang mereka yang berada di sekitar tempat mereka tawuran itu juga menjadi korban. Contohnya saja salah satu warung nasi goreng yang terletak di kawasan Alang Laweh, kaca gerobak tempat jualan nasi gorengnya pecah akibat terkena lemparan batu. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab dan mengganti properti itu?

Mendapati banyaknya laporan dari warga Kota Padang itu, membuat pihak kepolisian dari Polresta Padang tak tinggal diam. Demi menciptakan Kota Padang yang aman dan kondusif, Polresta Padang dibantu jajaran Polsek di lingkungannya, rutin menggelar patroli berupa operasi one night service. Apalagi pada saat Sabtu malam (malam minggu), pihak kepolisian menggelar patroli dengan menyisir tempat-tempat yang rawan terjadinya aksi balap liar dan tawuran ini, bahkan hingga Minggu pagi. Baru-baru ini, jajaran Polda Sumbar turun tangan untuk mengatasinya dengan membentuk tim yang diberi sandi "Alap-alap" dengan 60 personel dari Satbrimob Polda Sumbar. Upaya kepolisian ini patut kita apresiasi.

Hal ini membuat saya penasaran dan ingin melihat langsung seperti apa mereka beraksi menggunakan senjata-senjata mereka itu. Saya memutuskan untuk mengikuti patroli yang dilakukan jajaran Polresta Padang pada Sabtu malam di tiga minggu belakangan ini. Benar saja, dari pantauan saya, pada Minggu (2/2/2020) dini hari lalu, petugas menjaring 11 remaja yang diduga terlibat aksi balap liar di Kota Padang. Selain itu, petugas juga menyita 5 unit sepeda motor yang diduga digunakan dalam aksi balap liar itu. Bahkan, petugas juga menemukan sebilah pisau dapur yang terjatuh dari jok sepeda motor remaja tersebut. Logikanya, jika hanya ingin balap liar, untuk apa mereka membawa pisau tersebut?

Masih di hari yang sama, bahkan kali ini jam sudah menunjukkan pukul 05.45 WIB, warga pun sudah pulang menunaikan ibadah shalat Subuh dari tempat ibadah dan matahari pun sudah mulai tampak terbit. Namun tiba-tiba sekelompok remaja tak dikenal menyerang warga Purus, Kecamatan Padang Barat Kota Padang. Begitu mendapat informasi, aparat kepolisian yang sedang patroli operasi one night service dalam rangka antisipasi tawuran dan balap liar pun langsung mendatangi lokasi. Begitu melihat polisi datang, mereka pun langsung kabur berhamburan. Ada yang tampak membawa beberapa jenis senjata tajam menggunakan sepeda motor.

Usaha polisi tak sia-sia. Empat dari puluhan remaja yang menyerang warga Purus itu berhasil diringkus. Selain itu, polisi juga menyita empat unit sepeda motor dan empat senjata tajam jenis parang dan klewang tak berpenghuni yang diduga digunakan untuk menyerang warga di kawasan Purus tersebut. Terlihat massa sempat terlibat aksi bentrok dengan sekelompok remaja bermotor yang menggunakan senjata tajam (sajam) sebelum akhirnya polisi melakukan penyergapan terhadap sejumlah pelaku. Massa yang beringas sempat melakukan penyerangan terhadap anak-anak yang diringkus lantaran kesal kampung mereka diserang oleh pelaku tawuran yang membawa sajam.

Kemudian pada Minggu (9/2) sekira pukul 04.00 WIB, petugas yang berpatroli juga menjaring tiga remaja di bawah umur yang diduga terlibat aksi tawuran di Jalan Thamrin, Kecamatan Padang Selatan, tepatnya di depan Hotel Grand Zuri Kota Padang. Selain menjaring ketiga remaja tersebut, polisi juga menyita sejumlah senjata tajam di antaranya 2 buah parang, 1 samurai rakitan, 1 klewang, 1 gear sepeda motor yang diikat menggunakan seutas tali, 1 ikat pinggang dan 2 unit sepeda motor yang digunakan para remaja tersebut. Beberapa senjata tajam juga terlihat berserakan di tengah jalan. Salah seorang remaja yang ditemukan membawa senjata jenis parang itu mengaku hanya sebagai pelindung badan.

Belum lagi baru-baru ini Parmono Saogo (21) warga Dusun Mapoupou, Kabupaten Kepulauan Mentawai menjadi korban pembacokan menggunakan pedang samurai oleh orang tak dikenal di kawasan Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur. Peristiwa itu terjadi pada Minggu (16/2) sekira pukul 02.00 WIB dini hari. Korban mengalami luka serius di bagian leher sebelah kiri. Menurut Hengki Hotang (21) teman korban, peristiwa berawal saat korban keluar rumah untuk membeli makanan sekira pukul 02.00 WIB dengan berjalan kaki. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul dua kendaraan roda dua yang ditunggangi empat orang. Setelah menyerang korban, pelaku kabur. Korban terluka lalu dilarikan ke rumah sakit.

Melihat eskalasi tindakan brutal sebagian remaja di Kota Padang ini, apakah masih bisa digolongkan kenakalan remaja biasa yang cukup diselesaikan dengan "disetrap" atau diberi surat peringatan dan orang tua mereka dipanggil ke kantor polisi untuk menandatangani surat pernyataan karena masih di bawah umur? Jika sanksi tak diberlakukan, ditakutkan justru hanya akan jadi macan kertas yang ompong. Jika kelak dewasa, mereka akan terbiasa menginjak-injak hukum dan mengacuhkan upaya penegakan hukum dengan dalih HAM, meski perbuatan mereka sudah lebih dulu mencederai hak azasi orang lain.

Harus diakui pula bahwa tawuran dengan berbagai rententannya muncul karena para siswa kehilangan rasa aman, yang mendorong mereka mencari solusi dengan membangun sistem keamanan diri secara kolektif dan sayangnya mewarisan dendam dan rasa bangga menjadi pelaku tawuran. Kegiatan preventif seperti meningkatkan patroli untuk mencegah pecahnya tawuran memang perlu dilakukan. Namun, untuk mengatasi tawuran antara remaja seharusnya tidak sepenuhnya dibebankan ke pundak aparat keamanan saja. Orang tua dan keluarga memiliki peran besar dalam mencegah tawuran antar remaja.

Caranya orang tua harus meningkatkan pengawasan terhadap anak pada malam hari, terutama saat malam minggu, sehingga tidak keluyuran di jalanan. Selain itu, untuk mencegah tawuran, tidak ada salahnya pengurus  RT, RW, dan tokoh masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan warganya. Karena pencegahan tawuran antar remaja bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Pendek kata tawuran antar remaja adalah pekerjaan rumah (PR) bersama. Cara mengatasinya, tentu harus dilakukan bersama-sama. dengan menjadikan tawuran sebagai musuh bersama yang harus dituntaskan bersama secara sistematis dan terpadu dan menjadi masalah bersama yang harus dituntaskan. (*)

*) Tulisan ini dikutip dan telah diterbitkan di Harian Khazanah edisi Senin 24 Januari 2020.


Jangan Lewatkan