oleh



Wartawan Tak Boleh Liput Rekonstruksi Kasus Pengeroyokan Robby, KPAI: Itu Diatur Undang-undang

PADANG PANJANG (Metrans)

18 hari sudah berlalu, tragedi sadis atas hilangnya nyawa Robby Al Halim (17), putra bungsu Yose Rizal pedagang kuliner di Kota Padang Panjang, yang dilakukan oleh 17 orang  santri Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Panyalaian, Kabupaten Tanah Datar. Tragedi itu kini masih menjadi pertanyaan besar masyarakat.

Setelah 17 pelaku dipulangkan minggu lalu seperti yang telah diberitakan Metrans, berbagai pertanyaan miring masyarakat bergulir, baik di pelosok warung kopi, hingga ke media sosial. Mereka heboh menuntut pelaku untuk diberikan efek jera agar tak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Pemuda dan warga kampung halaman Robby sempat akan melakukan demo ke Ponpes, namun peranan Ninik Mamak dan Polres dapat meredam hal itu.


Kemarin, Rabu (6/3), Polres Padang Panjang yang menangani kasus tersebut melakukan rekonstruksi atas kasus pengeroyokan yang dilakukan 17 orang pelaku terhadap Robby Al Halim yang kini Insya Allah telah kembali pada pemilik-Nya dengan tenang. Namun hukum dunia harus tetap berjalan sebagaimana mestinya dan seadil-adilnya.

Rekonstruksi kasus pengeroyokan yang dilangsungkan di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Padang Panjang itu berlangsung di lokasi tempat korban dikeroyok oleh 17 santri, tepatnya di asrama putra atau musa dormitori.

Namun sayang, rekonstruksi untuk mengetahui penyebab kematian korban ini tertutup dari liputan awak media. Pantauan Metrans di lokasi rekonstruksi, aparat kepolisian mengawal ketat proses rekonstruksi mulai dari pagar utama masuk hingga ke musa dormitori.

"Media harap di luar pagar semuanya," ucap salah seorang aparat kepolisian yang mengawal rekonstruksi kasus itu.

Kuasa hukum terduga pelaku, Romeo Martianus, SH mengatakan, hal itu dilakukan karena diatur Undang-undang nomor 35 tahun 2014 pasal 64 huruf i dan Undang-undang nomor 11 tahun 2012 pasal 19 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) tentang identitas anak yang harus dirahasiakan terhadap publikasi, termasuk orang tua korban.

Atas hal itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina saat dikonfirmasi Metrans melalui telepon selulernya mengatakan, terkait rekonstruksi pelaku pengeroyokan yang menyebabkan hilangnya nyawa Robby Al Halim di Pesantren Nurul Ikhlas Panyalaian tersebut, dan apa yang dikatakan penasehat hukum terduga pelaku memang benar.

"Memang benar, dalam Undang-undang SPPA itu, pelaku di bawah umur baik rekonstruksi maupun pemberitaan nama, alamat dan wajah anak itu hendaknya disamarkan agar tidak ada labelisasi atau stigmatisasi pada anak. Sebab, ini menyangkut masa depan anak itu nantinya," kata dia, Rabu (6/3).

Lebih lanjut kata dia, jika ada kecurigaan masyarakat maupun pihak korban atas rekayasa atau 'permainan' dalam kasus ini, pihak korban dapat mendampinginya.

"Semua itu dapat dilihat dari SOP-nya. Di sana ada batasan-batasan, jadi kita mengharapkan pihak keluarga korban maupun masyarakat dapat memahami aturan yang ada dalam kasus pelakunya masih di bawah umur, beda dengan orang dewasa," katanya mengakhiri.

Sementara itu Yose rizal (orang tua korban) mengatakan, pihaknya akan tetap mengawal kasus ini hingga tuntas. Sebab, perlakuan pelaku kepada anaknya sudah di luar batas kewajaran terhadap seorang anak.

"Robby dikeroyok tiga hari berturut-turut dengan pelaku yang banyak serta menggunakan alat-alat hingga Robby pergi ke alamnya. Namun, kita akan terus memantau proses hukum yang berjalan," kata dia.

Terpisah, Tompel selaku Ketua Pemuda Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar mengatakan, sebagai mamak, dia tak menerima perlakuan yang tak wajar terhadap kemenakannya hingga meninggal dunia oleh 17 santri-santri sejawatnya di Ponpes Nurul Ikhlas. Dia juga akan mengawasi kasus ini hingga tuntas tanpa ada upaya rekayasa dan 'permainan' dalam kasus ini.

"Kita tetap mengawasi agar tidak ada upaya upaya Ponpes atau orang tua pelaku untuk bermain dalam hal ini. Sebab, ini terjadi juga akibat kelalaian Ponpes dalam pengawasan. Apalagi disinyalir salah satu pelaku adalah anak dari petinggi Ponpes. Jadi, kita akan tetap awasi, jangan sampai kita kecolongan," kata dia. (pul)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru