oleh

KISAH DRAMATIK PENYELAMATAN DARI TSUNAMI BANTEN

Willy, Penyelamat Dua Bocah Tapi Anak Istrinya Jadi Korban

 

 

Oleh: HERMAN DARNEL IBRAHIM


 

 

Menjadi pahlawan kadang tak cukup hanya melihat sukses di hasil akhir, tapi seberapa besar pengorbanan yang telah diberikan. Tetapi bagi seorang Willy Siska hal itu –menjadi pahlawan- bukan tujuan, ia hanya mengerjakan apa yang mesti dia kerjakan, menolong orang. Sekalipun kemudian nasib anak dan istrinya belum ia ketahui saat tsunami melanda pantai Anyer Banten pekan silam.
Takdir memang sebuah suratan yang ditulisNYA di lauh mahfudz dan itu tak terelakan oleh siapapun. Seperti Willy, putra kelahiran Batusangkar Tanah Datar Sumatera Barat ini. Ssebagai manajer SDM di PLN Transmisi Jawa Bagian Barat (TJBB) Willy juga sukar mengelak untuk tidak mengajak serta istrinya Yunita Primawati dan anaknya Alya  Shakina (7th) dan Ali Zaidan (3,5th) dalam acara Family Gathering PLN TJBB ke Pantai Anyer itu.
Takdirnya memang di situ. Ajal menjemput istri dan anaknya Alya serta Ali Zaidan. Istri dan anaknya jadi korban tsunami.
Sabtu pagi, saya bertakziah ke rumah Willy  di Perumahan Nuansa Permai, Cimanggis, Depok. Willy adalah urang awak kelahiran Batusangkar, Manajer SDM PLN Transmisi Jawa Bagian Barat. Saat acara Family Gathering PLN TJBB Willy ditemani isteri dan 2 anaknya. Isteri Willy dan 1 anak ditemukan meninggal sedang 1  anak lagi belum ditemukan. 
Alhamdulillh ketika saya bertemu Willy, ia terlihat cukup kuat dan tabah. Willy pun menuturkan kisah penyelamatan dirinya yang dramatis itu kepada saya.
“Setelah terjangan tsunami yang berlangsung cepat itu, saya tidak dapat membayangkan apa yang terjadi. Saya tiba-tiba mendapatkan diri saya telah berada di tengah laut sekitar 2 km dari pantai. Saya mencari cari sesuatu yang bisa dipegang seraya memanggil manggil istri dan anak saya. Tapi suara saya tenggelam noleh suara dari ombak. Dalam kegelapan malam akhirnya saya menemukan sebuah kotak kotak untuk berpegang. Ternyata disitu juga ada Ifan anggota grup band Seventeenth dan 1 orang lainya. Di sekitar kami samar-samar saya melihat beberapa  orang yang berteriak minta tolong. Ada dua anak kecil tak jauh dari saya. Kotak kemudian semakin tenggelam karena sudah di pegangi 5 orang. Saya memutuskan pindah ke arah dua anak dan disitu ada pegangan berupa meja “ tutur Willy kepada saya dengan.mata berkaca-kaca.
Willy yang keluarganya tinggal di jl Luak Sarunai 111,, Malana Ponco Batusangkar ini melanjutkan kisahnya, bahwa kemudian ia memutuskan untuk  berenang ke pantai yang dalam gelap tak jelas arahnya. Untuk menentukan arah daratan Willy mengaku hanya menggunakan logika sisi daratan lebih gelap dari pada sisi lautan. Lalu diputuskannya untuk bergerak ke arah yg lebih gelap itu. Sambil terus berdoa ia berpegangan di meja dan berenang kearah pantai dengan membawa dua anak tersebut. Lewat sini hari atau sekitar 3 jam setelah tsunami, jam 00.30 Willy bersama dua anak yang tak diketuai namanya itu akhirnya bisa mencapai pantai dengan selamat. 
Willy mengalami luka ringan di kakinya. Malam itu gelap karena listrik padam. Tim resque belum sampai di tempat. Paginya Willy mencari isteri dan anak anaknya. 
Anak pertama ditemukannya terjepit kayu dalam keadaan sudah meninggal. Tak lama kemudia ia menemukan Yunita, istrinya yang juga sudah dalam keadaan tak bernyawa. Hanya si bungsu Asi dan yang belum ditemukannya hingga saat ini.
“Saya mencari Zaidan sepanjang hari. Tapi tak bertemu jua,” ujarnya terbata dengan air mata berlinang. Saya mencoba menenangkan Willy.
“Yang patut disyukuri, Willy sudah selamat atas kuasa Allah dengan modal tidak panik; fisik yang fit; kecerdasan; dan kemampuan membuat keputusan di saat kritis, Willy, anda pahlawan, telah menyelamatkan dua bocah entah anak siapa, itu sebuah amal yang hebat,” kata saya menghiburnya.
Menurut saya ini adalah kisah penyelamatan yang dramatis mendebarkan. Musibah tsunami membuat Willy kehilangan Isteri dan  2 anak tercinta. Namun Willy telah menjadi pahlawan penyelamat 2 anak kecil yang tidak dia ketahui siapa nama dan anak siapakah keduanya. 
Kita doakan Willy tetap kuat dan tabah melewati peristiwa yg berat terdebut. Mudah mudahan anaknya yang kecil dapat ditemukan dalan keadaan selamat. Kita doakan semoga  arwah Isteri Willy dan anaknya yang sudah dimakamkan beristirahat dengan tenang dan mendapatkan surga di akhirat kelak. 
Wassalam, Jakarta 29 Desember 2018
(Herman Darnel  Ibrahim, mantan Direktur PLN)

 


Editor :  Eko Yanche Edrie

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2018



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru