742 Kecelakaan Lalu Lintas Terjadi di Padang Sepanjang 2019, 118 Anak di Bawah Umur Jadi Pelaku

Kasat Lantas Polresta Padang, Kompol Asril Prasetya ketika diwawancarai wartawan Metrans beberapa waktu lalu.

PADANG (Metrans)

Sepanjang 2019, tingkat kecelakaan lalu lintas di wilayah Kota Padang menunjukkan peningkatan dibanding tahun 2018. Dari total 742 kasus kecelakaan lalu lintas, 65 orang di antaranya meninggal dunia.

"Angka ini naik dibanding tahun 2018 hanya terjadi 663 kasus kecelakaan. Tetapi korban meninggal dunia pada 2019 menurun, dari tahun 2018 yang mencapai 71 orang," ungkap Kanit Laka Polresta Padang, Iptu Efriadi ketika diwawancarai Metrans, Rabu (8/1).


Ia merinci, Dari jumlah 742 kecelakaan itu, selain 65 orang meninggal dunia, 72 orang juga mengalami luka berat. Angka ini juga menunjukkan penurunan dibanding 2018 yang mencapai 100 orang korban luka berat.

"Untuk korban luka ringan ada 1.079 orang di tahun 2019 dan di tahun 2018 korban luka ringan mencapai 921 orang. Memang ada sedikit peningkatan korban luka ringan dari tahun sebelumnya," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kerugian materi akibat kecelakaan ini mencapai Rp991 juta. Sedangkan di tahun 2018, kerugian materi akibat kecelakaan lebih rendah yakni sekitar Rp885 juta.

"Lalu untuk penyelesaian perkara, juga mengalami kenaikkan. Tahun 2018, penyelesaian perkara hanya 591. Tahun 2019, 626 perkara," jelasnya.

PELAKU LAKA LANTAS DI BAWAH UMUR MENINGKAT

Berdasarkan data yang dihimpun, banyak fakta memperlihatkan bahwa anak di bawah umur menjadi pelaku dan korban kecelakaan lalu lintas jalan.

"Data yang saya peroleh dalam rentang 2019 memperlihatkan, 118 anak di bawah umur (rentang usia 5 hingga 15 tahun) menjadi pelaku kecelakaan. Meningkat dibandingkan 2018 yang hanya 110 orang," lanjut dia.

Di samping itu, Efriadi menjelaskan, selama tahun 2019 itu, setidaknya 241 anak di bawah umur (rentang usia 0 hingga 15 tahun) yang menjadi korban kecelakaan.

"Yaitu 13 anak di bawah umur meninggal dunia, 7 anak mengalami luka berat dan 221 anak mengalami luka ringan," kata dia merinci.

Menanggapi hal itu, Kasat Lantas Polresta Padang, Kompol Asril Prasetya mengatakan, sangat prihatin terhadap peningkatan angka kecelakaan di wilayah hukumnya, serta pelaku kecelakaan yang merupakan anak di bawah umur meningkat.

Untuk itu ia mengimbau kepada orang tua, untuk tidak memberikan kendaraan bermotor kepada anak-anaknya yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), apalagi yang belum cukup umur.

"Perlindungan terhadap anak-anak di bawah umur agar terhindar dari petaka jalan raya adalah mutlak. Menjadi kewajiban orang tua dan masyarakat untuk sentiasa mengingatkan risiko anak di bawah umur untuk berkendara," kata dia ketika dihubungi Metrans, Rabu (8/1) siang.

Selain karena kestabilan emosi saat berkendara gampang berubah, anak di bawah umur itu juga cenderung belum bisa mempertanggung jawabkan apa yang dia lakukan.

"Jadi disarankan agar orang tua juga memiliki peran yang aktif dalam melarang anaknya membawa kendaraan bermotor, apalagi sampai dibawa ke sekolah, dan tidak mengenakan helm, akibatnya sangat buruk sekali," ujarnya.

Secara aturan, jelas dia, anak di bawah usia itu juga belum diperbolehkan membawa mobil atau sepeda motor. Sebab, dalam ketentuan Undang-undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angktan Jalan (LLAJ) Pasal 81 menjelaskan, untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) minimal 17 tahun.

Sebagai contoh, untuk memperoleh SIM A, C dan D minimal berusia 17 tahun, kemudian SIM B1 minimal 20 tahun, dan SIM B II 21 tahun ke atas.

Asril juga mengatakan, pihaknya mencatat ada dua titik lokasi rawan kecelakaan yakni di sepanjang Jalan By Pass dan kawasan Panorama, Kecamatan Lubuk Kilangan. Sementara berdasarkan jam kerawanan, kecelakaan di Kota Padang paling sering terjadi pada malam hari.

[Raihan Al Karim]


Jangan Lewatkan