oleh

KEPSEK: KALAU ADA, SILAHKAN BELI DI LUAR

Dasar Baju Batik Siswa SMA 7 Padang Mahal, Wali Murid Mengeluh

PADANG (Metrans)

Wali murid Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7 Padang, merasa terbebani oleh mahalnya tagihan berupa perlengkapan sekolah seperti pengadaan baju dan buku pelajaran oleh pihak sekolah kepada para siswa.

Mereka beranggapan, biaya untuk membeli baju dan buku yang disediakan tersebut terlalu tinggi jika dibandingkan dengan sekolah lain. Harusnya, setiap kebijakan yang diambil pihak sekolah harusnya diukur dengan kesanggupan para wali murid, apalagi hal ini adalah hal yang wajib ada demi kelangsungan pendidikan anak-anak.


"Baju kami nilai harganya terlalu mahal dan tidak sepadan dengan bahannya. Terus kemarin ada buku tambahan yang harganya sampai Rp60 ribu, padahal katanya di sekolah tidak boleh menjual buku," ujar salah seorang wali murid yang tidak mau disebutkan namanya saat dihubungi Metrans, Selasa (8/10).

Dia menambahkan, sedangkan untuk buku Lembar Kerja Siswa (LKS) juga dijual lebih tinggi jika dibanding SMA lainnya yang harganya cuma Rp13 ribu. Sementara SMA 7 menjual sampai Rp20 ribu, padahal buku yang dibeli sama.

"Untuk harga buku tidak terlalu kami permasalahkan. Yang paling tidak masuk akal ialah untuk pengadaan baju batik dibebankan pihak sekolah seharga Rp130 ribu, dimana antara harga dan bahannya yang terlalu tipis, tidak sesuai. Lagian baju itu pun juga belum dijahit dan masih berbentuk bahan. Mungkin bagi kalangan menengah keatas tidak jadi masalah dan beda bagi kami dari menengah kebawah tentu sangat terbebani," pungkasnya lagi.

Dengan suara sedikit berat, ibu yang mengaku bekerja serabutan itu meminta adanya toleransi dari pihak sekolah. Berharap supaya SMA 7 dapat memberi keringanan kepada wali murid demi kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.

"Saya sangat tidak mampu untuk membayar dengan harga sebesar itu. Apalagi saya sudah ditinggal suami, tentu saya sendiri yang harus membesarkan dan menyekolahkan anak-anak," pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala sekolah (Kepsek) SMA 7, Enny Sasmita membantah adanya pungutan baju dan buku, namun diakui sekolah memang menyediakan seragam sekolah yang tidak ada dijual di luar, seperti baju batik, baju olahraga, baju muslim dan baju basiba. Sedangkan baju putih abu-abu bisa dibeli di luar sekolah.

"Sekolah juga menyediakan seragam. Kalau mau beli di sekolah silahkan, kalau tidak mau dipersilahkan beli diluar kalau ada," katanya saat ditemui di ruangannya.

Namun ketika diingatkan lagi bahwa yang dipermasalahkan orang tua murid adalah harga kain dasar baju batik yang dinilai terlalu mahal itu, Enny Sasmita selalu bertahan dengan argumentasinya, jika tidak mau membeli di sekolah, dipersilahkan beli di luar.

Begitu juga dengan penyediaan buku tambahan, sambungnya lagi, di sekolah ada namanya unit usaha koperasi milik pegawai Negeri SMA 7 Padang yang juga menjual buku dan unit itu bukanlah punya sekolah. Kemudian bagi wali murid yang ingin membelinya di sekolah silahkan dibeli, jika tidak mau juga tidak masalah.

"Bagi yang tidak mau beli buku juga tidak apa-apa. Akan tetapi, dengan adanya buku tambahan, tentu akan menambah khazanah ilmu pengetahuan para murid. Sementara untuk buku-buku pokok, sekolah telah menyediakan di perpustakaan yang telah ada," katanya.

Begitu juga dengan uang SPP, pihak sekolah tidak ada meminta pungutan, kecuali ada Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang telah sesuai dengan Pergub. Jika seorang murid memiliki KIP, maka siswa tersebut dapat sekolah secara gratis. (Buliza Rahmat)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru