Hendrajoni: Rendahnya Harga Sawit Karena Kurangnya Pabrik CPO di Pessel

Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni saat sosialisasi

PAINAN (Metrans)

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni mengatakan, rendahya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di daerahnya, bisa saja disebabkan karena kurangnya pabrik crude palm oil (CPO) untuk mengolah sawit di daerah itu.

Hal itu disampaikan Hendrajoni saat memberikan sambutan sosialisasi pembangunan pabrik CPO kelapa sawit, dampak lingkungan yang ditimbulkan dan fasilitas penegasan batas wilayah nagari di Hotel Hannah, Jumat (3/1).


Maka dari itu, lanjut Hendrajoni, untuk menangani permasalahan harga sawit yang dikeluhkan belakangan ini, kemudian agar semua itu dapat terwujud sesuai apa yang diharapkan bagi petani sawit, dirinya mengajak masyarakat untuk mendukung rencana pembangunan pabrik di Sungai Sindang Kecamatan Lunang tersebut.

"Ini sudah ada investor yang serius dan perlu kita dukung dalam pembangunan pabrik. Dan jangan sampai ada yang bertengkar. Karena sebelumya, sudah 20 investor yang ingin berinvestasi namun tidak ada yang jadi," kata dia.

Menurutnya, dengan adanya pabrik di daerah itu bakal dapat mendorong meningkatkan harga jual sawit  bagi petani. Karena selama ini harga sawit cenderung dimonopoli satu perusahaan sehingga mereka bisa menekan harga kepada petani.

"Dengan kehadiran pabrik CPO nanti kita minta harga yang paling tinggi dan tenaga kerjanya diutamakan warga di daerah setempat," katanya.

Pada sosialisasi yang diikuti 85 orang peserta terdiri dari Kerapatan Adat Nagari (KAN), wali nagari, tokoh masyarakat di Kecamatan Lunang, sejumlah kepala dinas, sejumlah kepala bagian dan anggota DPRD Pessel, Hakimin dan juga investor Subiantoro, selaku kuasa direksi.

Sementara itu, Subiantoro selaku kuasa direksi mengungkapkan pihaknya sangat serius untuk berinvestasi di daerah Kabupaten Pesisir Selatan.

Dengan keseriusannya untuk rencana pembangunan pabrik itu, ia telah melakukan orientasi dengan masyarakat dan turun langsung ke lapangan.

"Saya telah turun ke lapangan dengan berorentasi bersama masyarakat, ninik mamak, camat, dan walinagari. Dan itu pun dapat dukungan sepenuhya," kata Subiantoro.

Ia menambahkan, secara pribadi dirinya telah memiliki lahan 39 hektare. Dan itu mencukupi dalam pembangunan pabrik sawit di daerah itu.

"Jika ada sawit yang tidak produktif lagi, saya siap membelinya," tutup orang sumando Agam ini. (milhendra wandi)


Jangan Lewatkan