oleh



Leonardy : Warga Muhammadiyah Harus Menjadi Agen Pancasila

PADANG (Metrans)

Walau Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK-RI) telah memutuskan membatalkan frasa "empat pilar berbangsa dan bernegara" pada  tahun 2014 lalu, namun istilah itu tetap dapat digunakan untuk program sosialisasi yang dilakukan Majelis Permusyawaratan Rakyat  Republik Indonesia (MPR-RI).

Ini mengemuka saat sosialisasi empat pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kerjasama Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) dengan Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), di kantor PW Muhammadiyah, Jalan Sawahan No.62 Padang, Jumat (1/6).


Kegiatan sosialisasi ini juga dirangkai dengan acara berbuka bersama antara nara sumber dengan, dengan warga Muhammadiyah dan organisasi otonom Muhammadiyah lainnya, seperti 'Aisyiyah (Wanita Muhammadiyah), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah (Putri Muhammadiyah), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan lainnya.

Anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) sekaligus anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI), Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa S.IP, MH, yang menjadi nara sumber dalam kegiatan itu,  mengajak warga Muhammadiyah untuk menjadi agen Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Leonardy mengatakan, bila ingin melakukan perubahan, para mahasiswa warga Muhammadiyah harus bertekad “berada di dalam sistem”, dan jangan malah bercita-cita jadi pegawai negeri.

“Masuklah ke dunia politik, lalu kita rubah semua apa yang dianggap tidak lazim. Jadi, apa saja hal positif yang bisa kita kerjakan hari ini, kerjakan pada hari ini juga, mulai dari mana posisi kita berada saat ini. Jangan sampai menunggu tamat kuliah, lalu baru ingin berbuat sesuatu,” kata mantan Ketua DPRD Sumbar, yang punya andil besar dalam pembangunan Sekretariat PW Muhammadiyah di jalan Sawahan itu.

Leo mengatakan, sebenarnya Pancasila bagi warga Muhammadiyah, harusnya sudah dalam pelaksanaannya, dan bukan lagi sekedar sosialisasi dan pemahaman.

“Seharusnya Pancasila bagi warga Muhammadiyah, baik di perguruan tinggi, di lingkungannya maupun dimana saja berada, sudah dalam bentuk aplikasi atau pelaksanaannya,” kata dia.

Dia juga mengatakan, warga Muhammadiyah harus bisa menjadi agen Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Dengan demikian, Insyaallah kita orang Sumatera Barat akan utuh dengan empat pilar ini,” kata Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa.

Sosialisasi ini juga menghadirkan nara sumber, Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Prof.Dr. Sufyarma Marsidin, Devi Kurnia, SH, MH Asisten I Setprov Sumbar dan Kolonel Inf Muhammad Asep Afandi, S.IP, Kasiter Korem 032/Wbr, namun Asep Afandi tidak bisa hadir karena sedang berada di Jakarta.

Sebelumnya Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Dr. H. Shofwan Karim Elhusein, MA pada kesempatan itu mengucapkan terima kasih pada Anggota DPD/MPR RI, Leonardy Harmainy, yang telah menggandeng Muhammadiyah Sumbar melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Apalagi kata dia, sosialisasi itu bertepatan pula dengan peringatan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni.

Sementara itu, Devi Kurnia, SH, MH Asisten I Setprov Sumbar mengatakan, walau dalam formalitasnya MK-RI sudah membatalkan frasa "empat pilar berbangsa dan bernegara", namun itu bukan menjadi persoalan, yang penting adalah substansi dari "empat pilar berbangsa dan bernegara".

Dia mengatakan, UUD 1945 sudah empat kali mengalami amandemen, mulai dari tahun 1999, yang menjadi salah satu tuntutan reformasi, hingga tahun 2002.

Perubahan pasalnya pun, kata Devi Kurnia, juga sangat signifikan, dari 16 Bab menjadi 21 Bab. Kemudian dari 37 Pasal menjadi 73 Pasal. Lalu dari 49 Ayat menjadi 170 Ayat.

Walau demikian, kata dia, masih banyak elemen bangsa ini yang tidak puas, dan selalu mengkritisi.

Sementara itu, sebelumnya Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Prof.Dr. Sufyarma Marsidin mengatakan, sebenarnya bagi warga Muhammadiyah tentang kebangsaan dan kenegaraan tidak diragukan lagi, karena orang Muhammadiyah ikut mendirikan bangsa dan negara ini.

Namun kata dia, dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dalam aspek normalisasi tentu muncul dinamika. Sehingga, sebahagian masyarakat masih lemah pemahaman dan pengamalannya terhadap idiologi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Oleh karena itu perlu dilakukan kembali sosialisasi, untuk mengingat-ingatkan. Ibarat pribahasa Minangkabau lanca kaji dek baulang, pasa jalan dek batampuah,” kata Sufyarma Marsidin. (feb)


Editor :  Febriansyah Fahlevi

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2018



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru