Menelaah Dampak Covid-19 Bagi Negara Berkembang

M.Fedro Syafiola.

Oleh: M.Fedro Syafiola
Mahasiswa Sosiologi Unand

Belakangan ini dunia sedang digemparkan oleh wabah virus corona yang menyerang Kota Wuhan, China, dan dengan cepat menyebar ke wilayah lain di Cina dan beberapa negara lain sehingga menjadi perhatian global. Virus atau wabah yang baru muncul akhir tahun 2019 ini banyak merenggut nyawa setiap harinya. Selain menimbulkan korban jiwa, Covid-19 ini menyebabkan segala aktivitas dunia lumpuh dan berdampak besar terhadap negara dunia ketiga atau negara berkembang seperti Indonesia.

Covid-19 mengacu pada sekelompok kasus pneumonia virus yang terjadi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei sejak Desember 2019. Menurut penyelidikan oleh Otoritas Kesehatan China, coronavirus baru ditemukan sebagai agen penyebab. Gejala klinis ini meliputi demam, keletihan, batuk tidak berdahak dan sesak napas. Beberapa kasus kondisinya parah. Orang berusia lebih dewasa atau tengah menderita suatu penyakit berisiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang lebih parah. Cara penularan utamanya dengan melalui titik-titik air dari saluran pernafasan, virus juga dapat ditularkan melalui kontak. Kebanyakan orang memperkirakan bahwa periode inkubasinya bervariasi antara 1 hingga 14 hari, umumnya sekitar 5 hari.


Perspektif sosiologi kesehatan menyebut apabila kondisi sehat jika secara fisik, mental, spiritual maupun sosial dapat membuat individu menjalankan fungsi sosialnya. Jika kondisi sehat ini terganggu maka akan terganggu sosialnya. Tentu ini dinyatakan sakit. Tindakan preventif yang sesuai anjuran pemerintah dan badan kesehatan dunia harus dilakukan dalam upaya pencegahan virus corona seperti Hindari keramaian, kurangi kontak fisik, cuci tangan setelah memegang benda apapun, serta jaga kesehatan dengan berolahraga, perbanyak konsumsi makanan sehat seperti sayur, buah-buahan dan multivitamin.

Menyebarnya virus corona selain menimbulkan banyak korban jiwa, berimbas ke dampak lain di berbagai sektor, seperti perekonomian dan juga bisnis. Bagi yang mempunyai usaha bisnis sendiri sangat terasa dampaknya. Proyek menjadi sepi, pemasukan berkurang, pengiriman barang termasuk Indonesia juga tersendat, pelanggan juga berkurang drastis. Banyak orang yang takut berkeliaran di luar maka dari itu memilih berdiam diri di dalam rumah. Efek Covid-19 ini juga menghantam kondisi pasar dalam negeri sejauh ini. Upaya mencetak pertumbuhan perekonomian yang lebih tinggi pun menjadi kian menantang di tahun 2020 ini. Sebelumnya, keadaan ekonomi Indonesia sendiri sudah terkena dampak sejak corona menyerang China. Karena negara kita Indonesia sangat bergantung kepada negara China terbilang sangat tinggi.

Dalam kajian sosiologi, ketergantungan sosial merupakan aspek penting, yang didefinisikan sebagai gambaran adanya pola ketergantungan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya dalam kehidupan berbangsa dalam lingkup yang luas dan mendunia, tidak terbatas pada lingkup bilateral atau regional, melainkan lebih ke lingkup multilateral. Sedangkan dalam kajian ekonomi, ketergantungan sosial menunjukkan kondisi perekonomian di negara-negara tertentu yang dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari perekonomian negara-negara lain, di mana negara-negara tertentu ini hanya menerima dampak atau akibat yang dapat dilihat.

Menurut Pemikir Teori Ketergantungan, Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) yaitu keadaan yang menunjukkan kehidupan dalam bidang ekonomi di negara-negara tertentu, yang dipengaruhi oleh perkembangan dan perluasan di sektor perekonomian negara-negara lain, di mana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai yang merasakan dampak. Pemerintah harus mengurangi ketergantungan hubungan dagang dengan China, karena perdagangan Indonesia hampir 100 persen bergantung ke negara tirai bambu. Hal ini dapat terlihat dari bahan baku ataupun konsumsi yang tinggi dari China.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut, corona mempertegas ketergantungan RI terhadap China. Akibat dari masalah tersebut Indonesia dapat pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, seperti meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Nah, bahasanya Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengembangkan menjadi industri pengolahan seperti industri di bidang agro (CPO, karet, kakao dan lainnya), serta industri berbasis pada kelautan. Keadaan ini memberikan peluang sangat besar untuk pengembangan kawasan industri. Apalagi terkait dengan ketentuan UU No.3/2014 tentang Perindustrian yang mewajibkan industri harus berlokasi di kawasan industri.

Namun di balik itu, masih banyak tantangan dalam pengembangan kawasan industri di daerah, terutama masalah pengadaan lahan, infrastruktur dan fasilitas, SDM serta kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong atau menciptakan minat investasi ke daerah. Di tengah pandemi ini banyak buruh-buiruh yang di-PHK dan mencuatnya isu tenaga kerja asing (TKA) akan masuk ke Indonesia menuju kawasan industri di Konawe, Sulawesi Tenggara. Salah satu perusahaan yang menaungi pekerja itu, PT Virtue Dragon Nikel Industri (VDNI) yang bergerak di industri pertambangan nikel.

Dengan adanya wabah tersebut, Indonesia harus berbenah diri supaya tidak ketergantungan tenaga kerja ke negara lain. Apalagi di Indonesia telah banyak tersedia perguruan tinggi seperti politeknik dan badan pelatihan tenaga kerja (BLK) yang bertujuan membangun SDM yang unggul serta memenuhi kebutuhan pekerjaan industri tersebut. Nah, untuk apa lagi pekerja asing didatangkan? Sedangkan di tengah pandemi ini Indonesia  banyak tenaga kerja lokal kita yang di-PHK.

Kementerian Tenaga Kerja harus tegas dalam menanggapi TKA masuk ke Indonesia dan harus memperhatikan buruh-buruh yang di-PHK oleh perusahaan di mana tempat mereka bekerja, maka akan muncul masalah baru di negara kita seperti pengangguran yang menyebabkan marak terjadi tindak-tindak kriminalitas di tengah pandemi corona seperti perampokan, penjambretan, pembegalan dan lebih parahnya penjarahan. Apalagi masa pandemi ini diterapkannya PSBB di bulan suci Ramadan dan menjelang hari raya Idulfitri di mana kebutuhan masyarakat makin meningkat.

Tidak ada jalan lain bagi pengangguran untuk menyambung hidup dengan cara "haram" tersebut daripada mereka mati tidak makan gara-gara kehilangan pekerjaan. Ada yang beralasan terpaksa melakukan tindakan kriminalitas karena himpitan ekonomi. Sebab, di tengah wabah Covid-19, aktivitas ekonomi masyarakat dibatasi. Menanggapi hal tersebut, pemerintah harus mengantisipasi perihal tersebut. Misalkan membentuk pasukan khusus yang bekerja sama dengan TNI-Polri untuk mengamankan dari tindakan kejahatan seperti zaman orde baru dengan adanya penembak misterius yang membuat masyarakat gemetar untuk melalakukan tindakan kriminal.


Jangan Lewatkan