Tiga Penambang Emas di Solsel Diciduk Polda Sumbar

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto saat memberikan keterangan pers daring, Senin (18/5). (Foto: Humas)

MUARA LABUH (Metrans)

Tambang emas ilegal tanpa izin di Kabupaten Solok Selatan dibongkar oleh Polda Sumbar. Tiga orang ditangkap sebagai tersangka untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka yang melawan hukum.

Tiga orang yang ditangkap itu, kata jurubicara Polda Sumbar Kombespol Stefanus Satake Bayu Setianto, adalah pria WP (27), YH (20) dan I (37). Ketiganya diketahui terlibat dalam menambang emas secara ilegal alias tanpa izin di Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Solok Selatan.


“Kita juga menyita alat bukti berupa alat berat dan perlengkapan lainnya yang digunakan untuk mengoperasikan tambang, seperti mesin dompeng, saringan, timbangan emas digital serta emas 12,56 gram hasil tambangan mereka,” kata Bayu.

Iapun menjelaskan bahwa yang bertindak sebagai operator alat berat adalah lelaki YH kemudian dibantu oleh I yang berperan sebagai pendulang. Sedangkan WP adalah merupakan pengawas pertambangan.

Bagaimana mereka bisa tertangkap?

Menurut Bayu, mereka ditangkap setelah ada laporan dan kemudian tertangkap tangan langsung oleh anggota Ditkrimsus Polda Sumbar yang dipimpin oleh Kasubdit IV, AKBP Bendot. Ketiganya tertangkap tangan saat beroperasi malam hari persisnya di aliran sungai Pamong Gadang, Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir.

Menjawab pertanyaan wartawan, apakah ada yang berada di belakang operasi tambang ilegal ini? Kabid Humas Polda Sumbar menyebutkan, bahwa Polda Sumbar kini masih memburu otak di belakang pertambangan liar ini. “Jelas ada yang membiayai mereka, ini kan hanya pekerja. Nah itu akan kita kembangkan terus dan kita kejar pelakunya, identitasnya sudah kita kantongi,” kata Bayu.

Ketiga tersangka yang ditangkap tanpa perlawanan itu langsung dibawa ke Mapolda Sumbar, sedangkan barang-barang bukti dititipkan di Polres Solok Selatan.

Meresahkan

Penambangan emas liar di Solok Selatan bukan cerita baru. Sudah beberapa kali digerebek dan ditindak, tetapi tetap saja muncul kembali. Bahkan ada yang menimbulkan korban nyawa akibat kecelakaan tambang.

Seperti diberitakan sebelumnya, sembilan orang penambang tertimbun longsoran tambang emas di Pantai Cermin. 14 April lalu sebelum magrib, sembilan orang tertimbun longsoran dan evakuasi baru selesai pagi hari besoknya.

Kasubag Humas Pemkab Solok Selatan, Firdaus tambang yang runtuh tersebut membuat Pemkab Solsel prihatin. Dia menyebut, dari 9 orang penambang yang tertimbun, salah satunya merupakan perempuan.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar terakit maraknya tambang emas ilegal di daerah Saribu Rumah Gadang itu juga menyatakan keprihatinannya.

Dari data Walhi, di daerah Kecamatan Sangir Batang Hari setidaknya terdapat 12 titik tambang emas ilegal dan delapan titik yang aktif, disana juga ditemukan sekitar 30 eskavator.

Aktivitas tambang emas ilegal kembali masif dalam dua tahun terakhir di Solok Selatan, dimana sebelumnya sempat terhenti pada 2014. Mayoritasnya berada di kawasan hutan dan DAS Batanghari.

"Dalam hal ini ada cukong sebagai pemodalnya dan masyarakat lokal sebagai pekerja harian atau buruh kasar sebagai pendulang, dan sebagainya. Ada ribuan pekerja dari masyarakat lokal, termasuk perempuan, dan anak-anak," kata Direktur Walhi Sumbar, Uslaini.

Untuk akses menuju lokasi tambang, tidak semuanya bisa di akses dengan kendaraan roda dua, melainkan harus berjalan kaki sepanjang puluhan kilometer dan masuk hutan.

[Tim]


Jangan Lewatkan