Polda Sumbar Ungkap Tambang Emas Ilegal: 20 Tersangka Ditangkap, 2 DPO

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto ketika menggelar jumpa pers di Mapolda, Selasa (17/3). (Foto: Raihan Al Karim)

PADANG (Metrans)

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumbar mengungkap praktik pertambangan emas ilegal di dua lokasi berbeda. Alhasil, petugas berhasil meringkus 20 tersangka beserta beberapa barang bukti. Kini, polisi masih memburu 2 orang lainnya yang berperan sebagai pemodal.

"Kita meringkus para tersangka di dua lokasi berbeda. Mereka diringkus pada Senin 9 Maret 2020 lalu di Jorong Taratak Malintang, Kenagarian Limo Koto, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung," kata Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto ketika menggelar jumpa pers di Mapolda, Selasa (17/3).


Ia mengatakan, para tersangka mempunyai peran yang berbeda-beda. Di antaranya ada yang sebagai pengurus lapangan, pengurus lokasi, operator alat berat, pekerja pada bagian pendulangan, pengurus operasional lapangan, serta helper alat berat.

"Mereka tertangkap tangan pada saat melakukan kegiatan penambangan emas tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Pertambangan Rakyat (IPR) dan/atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dengan menggunakan alat berat jenis ekskavator," jelas dia.

Selain meringkus para tersangka, pada lokasi pertama, petugas menyita beberapa barang bukti di antaranya 2 buah karpet sintetis warna hijau, 2 unit pompa air mesin, 1 kotak perkakas, 1 buah kontroler alat berat, 1 unit GPS, 8 unit senter kepala, 3 jeriken BBM Solar, 1 jeriken BBM Premium, 4 unit sepeda motor, 1 unit tablet dan 7 unit telepon genggam berbagai macam merek.

Sedangkan pada lokasi kedua, petugas juga menyita beberapa barang bukti di antaranya 2 unit alat kontroler serta kunci kontak mesin, 1 buku catatan beserta pulpen, 1 lembar robekan kertas kardus yang bertuliskan "sif 1" dan "sif 2", 1 unit sepeda motor, 1 jeriken berisikan BBM jenis Solar, 3 lembar karpet sintetis, 1 unit mesin generator set, 1 unit mesin pompa air, serta 9 unit telepon genggam berbagai merek.

"Dari hasil penyidikan yang dilakukan, diketahui bahwa pelaku utama atau pemodal dalam perkara penambangan ini ada dua orang. Kini, identitas kedua pelaku itu telah kita kantongi dan sudah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO)," beber dia.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 158 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHPidana dengan ancaman pidana kurungan selama 10 tahun dan denda sebanyak Rp10 miliar.


Jangan Lewatkan