SUAMI GAGAL JADI ANGGOTA DPRD

Zubaidah Nekad Edarkan Uang Palsu ke Kampung-Kampung

Zubaidah sedang sedang menunjukkan barang bukti uang palsu kepada anggota polisi

SARILAMAK (Metrans)

Zubaidah (44), perempuan pengedar uang palsu yang berhasil dibekuk jajaran Polres Limapuluh Kota, ternyata adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di sebuah Puskesmas di Muaro Tebo, Propinsi Jambi.

(Baca juga: Wanita Muda Ini “Dicokok” Polisi di Guguak Payakumbuh)


Kepada penydik di Mapolres Limapuluh Kota, Zubaidah, mengaku bahwa dia nekad mengedarkan uang palsu, karena terlilit utang cukup besar untuk membiayai mantan suaminya yang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di Jambi.

 “Saya nekad melakukan pengedarkan uang palsu ini, karena terlilit utang,” aku Zubaidah saat disidik anggota Satreskrim Polres Limapuluh Kota, Senin (10/7).

Zubaidah mengungkapkan, ketika masih berumahtangga dengan suaminya bernama Asnawi dan menetap di Muarotebo, Jambi, dia hidup harmonis dan bahagia. Untuk mendukung karir suaminya yang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di Jambi, Zubaidah utang sana- utang sini untuk biayai nyaleg sang suami hingga ratusan juta rupiah.

“Namun meskipun sudah menghabiskan ratusan juta uang untuk biaya nyaleg, suami saya Asnawi tidak terpilih sebagai anggota dewan. Sejak kejadian itu rumah tangga saya tidak harmonis lagi dan kami terpaksa bercerai,” ujar Zubaidah mengisahkan.

Diakui Zubaidah, karena tidak tahan diburu-buru si penghutang, dia kabur ke Sumbar dan menetap di Bukittinggi. Dua tahun menetap di Bukittinggi, wanita itu mengaku nikah siri dengan dengan orang laki-laki yang bekerja sebagai karyawan pelaminan di kota Bukittinggi.

“Meski sudah menetap di Kota Bukittinggi, saya masih menjalankan tugas sebagai pegawai di Puskesmas Muarotebo, Jambi, walaupun tidak tiap hari menjalankan tugas,” aku Zubaidah.

Dijelaskan Zubaidah, walaupun dia sudah menetap di Bukittinggi, namun orang yang meminjamkan uang untuk biaya nyaleg suaminya dulu, tetap menagihnya.

“Secara tidak sengaja atas perantara teman, saya dikenalkan dengan seseorang pencetak uang palsu di Lampung. Karena memang sudah kepepet, saya menyepakati menukar uang asli sebanyak Rp 4 juta dengan uang palsu senilai Rp 10 juta,” beber Zubaidah kepada penyidik.

Diakui Zubaidah, uang palsu itu dijemput sendiri ke pelabuhan Merak, Lampung, setelah uang asli sebanyak Rp4 juta diserahkan kepada seseorang dan ia diberi uang palsu pecahan Rp100 ribu dan pecahan Rp50 ribu senilai Rp10 juta.

 “Atas petunjuk pemilik uang palsu itu, saya disarankan untuk membelanjakan uang palsu itu di kampung-kampung. Ringkas cerita maka saya pergi ke Kabupaten Limapuluh Kota dan berhasil membelanjakan uang palsu tersebut di 15 warung di daerah Mungka, Kecamatan Mungka, Limapuluh Kota,” ulas Zubaidah.

Namun, kelicikan Zubaidah tercium oleh Babinkantibmas Polsek Guguak dan berhasil menangkapnya, meski sebelum ditangkap sempat terjadi kejar-kejaran dengan anggota Polsek tersebut.

Kapolres ABKP Haris Hadis didampingi Wakapolres, Kompol Eridal, Kasatreskrim Kasat Reskrim AKP Chairul Amri dan KBO Ipda M. Harvi, kanit resum Ipda Heri Yuliardi  Kabag Humas AKP Efrizul, ketika ekpose perkara di Mapolres setempat , Senin (10/7), mengatakan bahwa dari aksi jahatnya itu, Zubaidah berhasil mengumpulkan uang asli hingga jutaan rupiah. (li2)


Jangan Lewatkan